Showing posts with label Jalan dan Makan. Show all posts
Showing posts with label Jalan dan Makan. Show all posts

Saturday, September 11, 2021

Kintamani yang sedang digemari

"Promo menginap Rp200ribu semalam lengkap dengan sarapan, api unggun, view Gunung Batur, gratis tiket air panas, dan tersedia paket sunrise tracking."

Iklan di IG. Ternyata yang di foto itu owner-nya

Caption Instagram tersebut memancing perhatian saya dan membuka kembali peluang untuk liburan ke Kintamani dengan harga terjangkau. Jarak dari Jimbaran membuat liburan bermotor ke Kintamani terlalu melelahkan andai tak menginap. Pengalaman berlibur ke Kintamani sebelumnya sudah lebih dari tiga tahun lalu, bahkan saat itu pun biaya menginap dan makan di Kintamani termasuk lebih tinggi daripada Denpasar. Wajar sih mengingat lokasinya terpencil, kondisi serupa terjadi di Gili Trawangan dan Sembalun di Lombok.

Monday, June 18, 2018

Menyatu Dengan Awan di Waerebo


Manusia berencana Tuhan menentukan

“Resmi, Pemerintah menambah cuti bersama Lebaran 2018.” Headline berita itulah yang saya tunggu-tunggu bulan lalu, membuat tahun ini menjadi liburan terpanjang dengan total 12 hari! Berbagai ide liburan berkelebat di kepala, mengingat mudik ke kampung halaman (yang cuma dari Lombok ke Bali) tak perlu waktu selama itu. Ingin ke Sumba tapi biayanya terlalu mahal untuk sendiri, akhirnya memutuskan ke Flores lagi (sebelumnya pernah Phinisi Trip 6D5N dari Lombok-Labuan Bajo-Lombok di 2015, dan liburan ke Maumere-Ende tahun 2017). Sebagai PNS di DJP, kami tersebar nyaris di seluruh pelosok negeri termasuk di Ruteng, kota terdekat menuju ke Waerebo. Ya, Waerebo! Desa misterius di atas awan yang mendapat penghargaan dari UNESCO-PBB, bukan main!

Monday, September 25, 2017

Desa Terpacu untuk Ekonomi Melaju


Menjadi petugas lapangan membuat saya lumayan sering berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal kondisi ekonomi secara riil khususnya di Lombok Timur dan Lombok Tengah, wilayah kerja saya 4 tahun belakangan. Dibandingkan 3-4 tahun lalu terjadi perubahan signifikan di desa-desa dengan adanya Program Dana Desa dari dana APBN, pembangunan terjadi nyaris di seluruh desa yang saya lewati dan kunjungi. Mungkin itu salah satu alasan saya menikmati kunjungan lapangan dengan sepeda motor karena bisa menelusuri jalan-jalan tanah yang baru dibuka, bukti bahwa jerih payah pengumpulan Pajak bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat hingga level terbawah.

Harus dipahami bahwa Pemerintahan yang sekarang berkonsentrasi untuk pembangunan infrastruktur di daerah terpencil, terluar, perbatasan, dan desa, sehingga program subsidi dan pembangunan di kota dikurangi, tentu masyarakat kota pada umumnya akan merasakan seakan-akan kondisi ekonomi begitu susah akhir-akhir ini (sampai tercetus istilah "kemana uang pergi? Kok usaha dimana-mana sepi!"). Pemerataan ekonomi yang dicita-citakan sejak Negara ini merdeka mungkin mulai terwujud saat ini. Sebagai gambaran, sejak 2015 setiap desa memperoleh dana untuk pembangunan infrastruktur lebih dari Rp500 juta, dan tahun 2017 nilainya telah lebih dari Rp700 juta. Tinggal dihitung ada berapa ratus desa di tiap kabupaten, maka nilai Dana Desa ini besar sekali!

Monday, March 27, 2017

Penglatan Punya Cerita




Desa Penglatan, tak semua orang Buleleng yang tahu di mana desa ini berada, apalagi mereka yang berasal dari luar Buleleng. Jadi kalau saya ditanya berasal dari mana, biasanya saya jawab berasal dari Singaraja, kalau masih ditanya lagi Singaraja-nya di mana baru lah saya katakan dari Penglatan. Kemungkinan besar saya masih harus memberi gambaran bahwa Penglatan itu letaknya di sebelah selatan Banyuning, sebelum ke Penarukan.
 
Pura Bukit Desa Penglatan

Sunday, November 6, 2016

Wisata Tanpa Terduga: Yogyakarta



Sebagai PNS, panggilan dinas disyukuri karena berarti kesempatan untuk mengembangkan diri (dalam pendidikan, pelatihan, atau seminar), sekaligus kesempatan untuk jalan-jalan dan mengenal daerah baru. Selama 8 tahun bekerja, saya telah mengalami panggilan dinas ke Jakarta (beberapa kali), Malang, Surabaya, Bandung, dan terakhir ke Yogyakarta, jadi lengkap sudah area di Pulau Jawa saya kunjungi dalam rangka kedinasan. Jika perjalanan dinas sebelumnya saya lalui dengan sedikit jalan-jalan, biasanya hanya ke Mall-nya, maka kali ini di Yogyakarta saya memang meniatkan diri untuk bertualang demi lebih mengenal daerah istimewa ini.

Saturday, May 14, 2016

Jujur, Belitong Indah!


"Dream, for God will embrace your dreams." - Andrea Hirata

Pulau Belitung yang oleh penduduk setempat disebut Belitong (seperti halnya banyak kata lain berakhiran 'u' yang disebut jadi 'o' contohnya Desa Gantung disebut Desa Gantong) pertama kali saya kenal saat masih kuliah di novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ternyata bukan saya saja, jutaan orang lainnya juga mungkin baru mengenal Pulau Belitung dari novel yang berkisah tentang kehidupan masa kecil Andrea "Ikal" Hirata dan sembilan temannya di SD Muhammadiyah Gantong. Ketika akhirnya menonton filmnya di bioskop tahun 2008, dari situ saya dan dia memutuskan bahwa suatu hari nanti kami harus ke Belitung!

Friday, February 12, 2016

Sisi Lain Lombok Yang Mungkin Tak Kamu Ketahui (Part 1)




Siapa sih yang tak kenal Pulau Lombok saat ini? Terakhir, Pulau Lombok dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia, mengalahkan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Pulau Lombok juga berulang kali masuk nominasi pulau terindah di Asia bersama dengan Pulau Bali. Masih kurang bukti? Acara jalan-jalan di TV berulang kali berkunjung ke Lombok, baik yang sekedar jalan kaki di pinggir pantai Gili Trawangan, berenang diantara ikan-ikan dan terumbu karang di Gili Kondo, mancing di Sekotong Barat, hingga mendaki Gunung Rinjani, dan mengendarai motor trail menaiki Bukit Marese. Bahkan grup jalan-jalan Lombok makin hits dan anggotanya bertambah terus, baik di Instagram maupun di kenyataan saat gathering.

Meski telah dipublikasikan secara luas, masih ada hal-hal unik tentang Pulau Lombok yang mungkin tidak diketahui secara luas dan mungkin hanya ada di Lombok. Mungkin tidak ada di tempat lain, karena belum 1% dari Republik Indonesia tercinta ini yang saya tinggali, baru pernah di Bandung (3 bulan), Tangerang (3 tahun), Jakarta (8 bulan), Sumbawa Besar (3 tahun), dan Mataram (hampir 5 tahun sampai sekarang), tak lupa Bali (lahir, besar, tinggal di pulau indah itu).

Sisi Lain Lombok Yang Mungkin Tak Kamu Ketahui (Part 2)


Lombok, tak cukup satu tulisan kali ini saya sambung lagi dengan sekuelnya, masih tentang hal-hal unik yang terjadi di Lombok dan mungkin saja tidak terjadi di daerah lain di Indonesia.


5. Tukang Parkir, tukang parkir dimana-mana

Ciri khas kota berkembang di Indonesia adalah keberadaan tukang parkir, terutama tukang parkir liar yang tidak berseragam, tidak memberikan karcis parkir, dan tidak tahu uangnya disetorkan kemana. Memang parkir menjadi ladang penghasilan yang menggiurkan, Gubernur DKI sampai berani menggaji tukang parkir liar 2 kali UMP atau sekitar 6 juta rupiah setiap bulan, asal mau menjadi tukang parkir resmi dan menyetorkan uang parkir ke Pemprov DKI. Berarti setiap tukang parkir diperkirakan mampu meraup lebih dari 6 juta rupiah setiap bulan! Bandingkan dengan menjadi kuli panggul di pelabuhan, sebulan dapat 1,5 juta rupiah sudah beruntung, belum biaya jamu buat encok pinggangnya.

Monday, June 8, 2015

Terumbu Karang, Istana Bawah Laut Yang Mempesona


Terumbu karang adalah "bangunan" ribuan karang yang menjadi tempat hidup berbagai ikan dan mahluk laut lainnya. Terumbu karang tercipta dalam kurun waktu yang sangat lama, dan terumbu karang yang ada saat ini rata-rata telah berumur lebih dari 10.000 tahun! Jika itu adalah vas antik Cina, maka kita akan memperlakukannya sangat hati-hati takut pecah, tapi terumbu karang (yang sama mudah rusaknya) saat ini malah tak terlindungi dari ancaman manusia seperti terinjak, dijarah untuk dijual menjadi hiasan akuarium, tertimpa jangkar kapal, terpolusi sampah plastik dan limbah industri, hingga pengeboman oleh oknum pencari ikan. Terumbu karang hanya bertambah tinggi 1 cm saja dalam 1 tahun, jadi bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan jika terumbu yang rusak karena pengeboman setinggi 50 cm bahkan sampai 1 meter? 50 sampai 100 tahun!

Wednesday, June 25, 2014

Cerita tentang Liburan

Liburan sebentar lagi tiba, libur anak sekolah, libur anak kuliah, libur lebaran, setidaknya lebih dari sekedar sabtu dan minggu. Sebagai pekerja rantau, saya sangat menghargai waktu liburan dan berusaha mengisinya semaksimal mungkin dengan kegiatan yang saya sukai. Tidur dan bermalas-malasan termasuk diantaranya. Jadi seringkali ketika weekend di Mataram, saya memilih hanya berkutat di kost dan bermalas-malasan sepuasnya, menikmati kemewahan tanpa keluar biaya.

Cara menikmati liburan bagi tiap orang berbeda-beda, ada yang cukup ke Jalan Udayana Mataram hari minggu pagi, ada pula yang mesti ke Pantai Pink Lombok baru bisa disebut berlibur. Menurut pengamatan saya ada beberapa tipe liburan yang biasa dilakukan, dan untuk mudahnya dibagi menurut warna,