Monday, June 18, 2018

Menyatu Dengan Awan di Waerebo


Manusia berencana Tuhan menentukan

“Resmi, Pemerintah menambah cuti bersama Lebaran 2018.” Headline berita itulah yang saya tunggu-tunggu bulan lalu, membuat tahun ini menjadi liburan terpanjang dengan total 12 hari! Berbagai ide liburan berkelebat di kepala, mengingat mudik ke kampung halaman (yang cuma dari Lombok ke Bali) tak perlu waktu selama itu. Ingin ke Sumba tapi biayanya terlalu mahal untuk sendiri, akhirnya memutuskan ke Flores lagi (sebelumnya pernah Phinisi Trip 6D5N dari Lombok-Labuan Bajo-Lombok di 2015, dan liburan ke Maumere-Ende tahun 2017). Sebagai PNS di DJP, kami tersebar nyaris di seluruh pelosok negeri termasuk di Ruteng, kota terdekat menuju ke Waerebo. Ya, Waerebo! Desa misterius di atas awan yang mendapat penghargaan dari UNESCO-PBB, bukan main!

Rencana tersusun, dengan nantinya trip ke Waerebo tanggal 9-11 Juni 2018 bersama sahabat yang bertugas di Ruteng (sebut saja Wima) karena kebetulan dia baru mudik tanggal 12 Juni. Tiket berangkat terbeli: Lombok ke Labuan Bajo 9 Juni pagi, sampai di Labuan Bajo sekitar pukul 2 siang lalu lanjut dengan travel Gunung Mas dari bandara ke Ruteng. Tiket kembali tak terbeli: terlalu mahal! Harga tiket kembali ternyata tak beda jauh dengan paket Phinisi Trip dari Labuan Bajo ke Lombok 3D2N (menggunakan perusahaan yang sama dengan 3 tahun lalu, bahkan ownernya masih ingat dengan saya, awww), berhubung liburnya lama jadi saya memilih berlayar sekalian mengunjungi pantai-pantai indah di Sunda Kecil. Sebelum berangkat saya juga rutin membaca tentang Waerebo dan menemukan fakta penting (setidaknya bagi saya) di salah satu blog bahwa jalur treking berupa tanah becek dan banyak lintahnya! Penulis blog itu menyarankan agar tidak memakai sendal gunung, lebih baik menggunakan sepatu gunung dan kaus kaki tinggi. Demi Waerebo (demi tidak digigiti lintah tepatnya), saya membeli sepatu gunung pertama dalam hidup (meski murahan, hihihi). Rencana tersusun-siap liburan, hingga akhirnya beberapa hari sebelum berangkat Wima memberitahu bahwa dia harus mudik lebih awal. Nah lho! Terpikir bahwa belum jodoh ke Waerebo dan hendak reschedule tiket, tapi Wima meyakinkan untuk tetap berangkat sendiri (“sudah di Flores, sayang banget ga ke Waerebo Je! Suasana sore hari di sana tak terlupakan!”), nanti dia akan menitipkan kunci kost dan kunci motornya di kantor. Setelah berpikir, menimbang, menghitung, akhirnya: Oke Sip Lets Go!

Matahari cuma bersinar 2 jam di Ruteng

Seperti biasa penerbangan ke Flores menyenangkan, pulau-pulau kecil kecoklatan dengan pantai berwarna tosca menghiasi perjalanan (pilih duduk di jendela ya, sebelah kanan pesawat). Sampai di Bandara Komodo Labuan Bajo sekitar pukul 2 siang, segera menghubungi travel Gunung Mas untuk berangkat pukul 3 sore ke Ruteng (harganya Rp110 ribu dan kursinya legaa) dan untungnya belum penuh! Oya, begitu keluar dari Bandara akan banyak orang yang menawari jasa travel ke Ruteng (sebagian besar dengan mobil Avansa), berhubung ini perdana saya tak berani mencoba-coba (meski ditawari harga lebih murah) dan bersikeras ke orang-orang bahwa saya sudah dipesankan travel oleh teman dan tidak enak kalau dibatalkan (boong dikit, abis bapak-bapaknya rada maksa). Oya, bagi yang perutnya lemah sebaiknya berbekal Antimo sebelum berangkat, karena perjalanan ke Ruteng melalui jalan meliuk-liuk yang bisa menguji iman, saya sendiri yang terbiasa dengan jalan seperti itu di Singaraja tetap merasakan tidak nyaman ketika ada penumpang yang muntah-muntah di mobil.

Selamat datang di Ruteng!

Ruteng hanya berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Labuan Bajo tapi begitu kontras, apabila di Labuan Bajo begitu panas dan gersang, maka begitu mendekati Ruteng suasana langsung mendung dengan banyak sawah, hutan, dan dingin! Sampai di kantornya Wima di Ruteng, bertemu dengan anak baru (sebut saja Damar) yang memang tak mudik dan ingin turut serta ke Waerebo, dan setelah bertanya-tanya tentang rute dan medan menuju Waerebo ke putra asli Ruteng (sebut saja Haris) memutuskan bahwa harus berangkat 10 Juni pagi-pagi karena harus menempuh perjalanan motor sekitar 3 jam dan treking sekitar 3 jam, dan harus sampai di puncak sebelum pukul 6 sore. Tantangan kesekian dari perjalanan kali ini adalah: Mandi malam dan mandi pagi di Ruteng! Airnya memang sedingin es! Untungnya saat itu Ruteng katanya sedang tak terlalu dingin, jadi saya mampu mandi pukul 11 malam (dengan super menggigil badai) dan esoknya pukul 6 pagi (persiapan menginap di Waerebo yang mungkin saja bakal tak bisa mandi di sana, ya Ruteng saja dingin begini apalagi di atas bukit sana!)

Beauty in the beast

Minggu pagi di Ruteng begitu syahdu, udara begitu segar, pemandangan sawah-sawah di kiri-kanan jalan, dan warga yang berduyun-duyun berjalan kaki menggunakan pakaian terbaiknya menuju gereja, ciamik! Kami memilih berangkat melalui jalur Lembor, melewati persawahan Cancar (sayangnya tak sempat berfoto dengan sawah ikonik serupa sarang laba-laba itu, hiks) dengan dibantu Gmaps dan kemampuan cemerlang Damar menghapal peta (kalau berangkat sendiri yakin deh saya bakal sering turun dan tanya warga karena ternyata sepanjang jalan banyak persimpangan! Dengan sinyal Gmaps tak selalu bagus). Setelah 1 jam perjalanan, medan yang dilalui mulai makin menantang dengan kondisi jalan beraspal yang rusak, dan puncaknya adalah jalan tanah dengan batu-batu besar terpasang menjulang! Rusaknya jalan ke Pantai Pink Lombok tak ada apa-apanya! Selama beberapa kilometer kami harus melaju sangat pelan karena motor susah dikendalikan, disamping ban beberapa kali selip di bebatuan dan harus turun dari boncengan ketika di tanjakan. Untungnya saat itu tidak hujan (kemudian hari saya bertemu teman yang ke Waerebo malam hari gelap gulita dan hujan, berkendara motor 10 jam dari Labuan Bajo! Dashyat! Apa tak jadi bubur tu punggung).

Sawahnya ciamik!

Tebing, sawah di lembah, sawah di atas, sungai, kompliit
Melintasi pesisir pantai berbatu pula

Setelah jalan menembus perbukitan, kami kemudian menyusuri pantai, kemudian naik kembali ke perbukitan, dengan sawah yang makin indah menghiasi selama perjalanan. Pukul 11.30, setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam kami sampai di Desa Denge, perhentian terakhir sebelum treking ke Waerebo (dengan beberapa kali kami mempertanyakan apa kabar utusan PBB melewati medan perjalanan tadi, apa ga pegal linu badannya). Kami berkunjung ke tourist information untuk petunjuk jalan dan sekaligus makan siang (lutut sudah gemetar karena tak sarapan). Dengan bangga Pak Blasius menyatakan bahwa mantan murid SD-nya bernama Haris sekarang telah sukses menjadi PNS di Ruteng (kami meminta petunjuk ke orang yang tepat), selain menjelaskan sekilas tentang Waerebo, bahwa kami harus langsung menuju rumah adat di tengah-yang terpasang tanduk kerbau di atasnya, untuk meminta ijin, sebelum mulai berfoto-foto. Selain itu beliau menawarkan untuk menitipkan helm karena lokasi parkir di tengah hutan tak ada yang menjaga. Perut terisi, helm aman, saatnya kami treking! Tapi sebelumnya berkendara sekitar 15 menit sampai ke parkiran yang memang benar di tengah hutan, hanya ada beberapa tukang ojek yang terlihat di sekitar lokasi (jalan menuju parkiran motor pun agak menantang, jadi kesimpulannya untuk berkendara sendiri ke Waerebo skill bermotornya harus sudah terasah dulu ya).

menu makan siang di Pak Blasius @Rp35 ribu
parkiran motor seadanya
berfoto sekaligus rehat treking

Jalan menuju Waerebo cuma satu, jadi ikuti saja jalan setapak yang telah ada, berupa jalan tanah menembus hutan dan memang becek dan licin (untungnya telah pakai sepatu gunung!). Satu jam pertama treking jalan menanjak tanpa henti, jadi sebaiknya berjalan santai saja tak usah dipaksakan, udara dingin membantu meringankan perjalanan dengan beberapa kali kabut menyelimuti jalan. Satu jam berikutnya medan lebih mudah karena tak lagi terlalu menanjak, bahkan 30 menit terakhir jalanan menurun (tinggi maksimal bukit 1700 mdpl, sementara Waerebo terletak di sekitar 1100 mdpl), dedaunan pohon semakin rindang, dan tiba-tiba terhampar pemandangan ajaib di depan mata: Waerebo!


Negeri di Awan: Waerebo

Rumah adat Waerebo yang bernama Mbaru Niang (berarti rumah kerucut) berdiri kokoh di dataran satu-satunya di sana, dengan bukit tinggi membentengi di sekelilingnya serta awan yang selalu setia mengintip setiap saat. Terdapat 7 Mbaru Niang (serta 1 Mbaru Niang tambahan yang khusus untuk tamu apabila ketujuh rumah penuh) yang berkumpul, serta beberapa Mbaru Niang tersebar di perbukitan. Mbaru Niang merupakan rumah adat masyarakat Manggarai, tapi seiring kemajuan jaman kemudian ditinggalkan dengan rumah modern, dan di Waerebo adalah tempat di mana Mbaru Niang ditinggali dan digunakan sehari-hari (operasional tak hanya sebagai monumen). Dalam satu Mbaru Niang sanggup menampung 6 KK (kecuali di Mbaru Niang tempat pimpinan-yang ada tanduk kerbaunya, sanggup menampung 8 KK) atau bisa menampung menginap hingga 40 orang dewasa.
Sesuai petunjuk Pak Blasius, kami langsung menuju rumah utama dan disambut oleh pimpinan adat Bapak Rafael Niwang yang katanya usianya 93 tahun tapi masih sangat sehat! Beliau dapat berbicara Bahasa Indonesia meski lebih sering berbahasa daerah. Kami ditanyai asal darimana, kami jawab dari Denpasar dan dari Yogyakarta, kemudian beliau kembali bertanya,
Rafael: “Ada barita?
Saya memandang Damar kebingungan, dan menyimpulkan ‘Oh, mungkin karena beliau hidup terpencil, ingin menanyakan berita apa di luar sana’, jadi saya menjawab
“Tidak ada barita baru Bapak, semua baik-baik saja.”
Nah di sini momen ketika wajah Pak Rafael yang kebingungan, mungkin dia berpikir ‘ni bujang-bujang kedinginan kali ya otaknya ga jalan’.
Rafael: “Barita. Barita sekadarnya untuk mendoakan Denpasar dan Yogya.”
Akhirnya otak beku saya sedikit mengencer dan mengerti yang dimaksud adalah sumbangan seikhlasnya sebagai syarat didoakan memasuki Waerebo (sebenarnya telah dijelaskan Pak Blasius, untuk 1-2 orang Rp20 ribu, selebihnya Rp50 ribu). Dengan malu-malu karena salah paham tadi, saya memberikan Rp50 ribu dan kemudian Bapak Rafael memulai ritual doa dalam bahasa daerah, yang kalau saya terawang maknanya adalah kami ini warga Denpasar dan Yogya selama berada di sana telah menjadi warga Waerebo. Kemudian beliau mengijinkan kami menuju rumah khusus tamu untuk beristirahat (rumah adat bagi tamu adalah rumah pertama begitu masuk ke Waerebo, tapi ketika ramai seperti saat 17 Agustus dan Upacara Adat Penti di November, pengunjung bisa sampai ratusan orang sehari, maka semua rumah adat-kecuali rumah pimpinan adat, digunakan untuk menerima tamu menginap) dan disambut oleh Michael, anak muda yang menjabat sebagai manajer di Waerebo. Michael fasih berbicara berbagai bahasa, katanya belajar otodidak dari pengunjung Waerebo, padahal usianya baru 22 tahun dan terakhir hanya bersekolah hingga SMA.
Ternyata di dalam Mbaru Niang sangat lapang, mungkin karena tak ada meubelair, hanya semacam aula melingkar dengan kasur berjajar melingkar dan dudukan untuk makan terletak di tengah. Penerangan di Waerebo berasal dari panel listrik tenaga surya (meski saya heran, karena selama di sana tak sampai 30 menit Matahari bersinar sehari) dengan dibantu tenaga genset solar. Tak ada PLN, tak ada PDAM, tak ada sinyal dan wifi, tapi ada pemandangan super indah dan disediakan pula kartu remi dan Uno untuk sekedar mengisi waktu malam. Hari itu terdapat 17 orang menginap, dengan kami berdua datang paling pertama sekitar pukul 2 siang. Sejak pukul 3 hingga 5 sore kami berdua hanya duduk di halaman memandangi indahnya Waerebo, sambil mengambil foto, kadang membaca novel, tapi sebagian besar kami hanya melamun. Ada momen ketika seluruh Mbaru Niang tak terlihat karena diselimuti awan, tapi momen berikutnya jelas kembali. Benar kata Wima, momen sore di Waerebo ini luar biasa!

tadi cerah, tiba-tiba berkabut total, eh awan

Hidup bersama awan-awan

(Berikutnya sebagian besar berdasarkan penuturan Michael) Penduduk Waerebo masih memegang teguh adat dan cara hidup tradisional mereka, meski juga beradaptasi dengan kemajuan jaman. Dengan dibantu beberapa yayasan, pengelolaan wisata terbilang rapi sampai ada jabatan manajernya pula. Wanita-wanita Waerebo membuat kain songket di waktu luang dan dijual bagi pengunjung, harganya untuk ukuran sarung Rp450 ribu, untuk ukuran lebih kecil lebih murah lagi (jadi sebelum berangkat siapkan uang, tak ada ATM sejauh mata memandang). Uang tersebut akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti biaya sekolah anak-anaknya. Lha, anaknya sekolah dimana? Ternyata penduduk Waerebo memiliki kampung di lembah bernama Kombo, setiap warga Waerebo memiliki rumah di Kombo sekaligus sawah, sementara di Waerebo mereka berkebun kopi dan tinggal bersama-sama keluarga lainnya dalam satu Mbaru Niang. Ketika anaknya memasuki usia 7 tahun, mereka akan dikirim untuk tinggal sendiri di Kombo supaya bisa bersekolah. Sejak usia 7 tahun anak Waerebo harus bisa hidup sendiri, belajar sendiri, mencuci baju sendiri, dan masak sendiri (bahkan ada yang dibekali orang tuanya padi dan gabah! Jadi mereka harus memecah berasnya sendiri sebelum bisa dimasak, cadas!). Tak heran di Waerebo kami hanya menemui banyak balita dan orang-orang tua.

Selamat datang di Waerebo, kaka!

Oya, bagi para pengunjung sebaiknya tak memberikan apapun ke anak-anak di Waerebo meskipun mereka terlihat lucu dan menggemaskan, katanya apabila terbiasa diberi oleh turis (yang besar seperti uang, buku, hingga yang remeh macam sebiji permen) akan membuat mental peminta-minta. Apabila ingin menyumbangkan uang atau buku sebaiknya melalui Michael dan nanti akan disalurkan ke anak-anak. Saya yang sedang asyik foto-foto pun tak lepas dari keceriaan mereka, serta merta kamera dipinjam katanya mereka ingin foto temennya sendiri sembari ketawa ketiwi. Seperti anak-anak pada umumnya, mereka senang melihat hasil foto dirinya di kamera atau di HP (eh orang dewasa juga kayak gini ya, hihihi..) Apabila menginap di Waerebo, siapkan uang Rp325 ribu per orang (menginap serta makan 3 kali), apabila hanya bertamu maka Rp200 ribu termasuk makan siang.

Menggunakan sarung songket asli Waerebo

Waktu menunjukkan pukul 7 malam dan saatnya makan malam. Kami berkumpul di tengah rumah dan makanan disajikan: Daging ayam rebus bumbu kuning, sayur labu dan daun singkong (mungkin), dan nasi hangat. Makanannya enak! Sederhana tapi enak banget! Ada sambal pula, cabe dicampur bawang, itu juga endes! Selepas puas makan, ada yang bermain kartu, ada yang baca novel, ada yang sekedar ngobrol, tapi begitu keluar Mbaru Niang, brrr duingin! Tak terlihat apa-apa hanya terlihat kabut pekat. Begini rasanya hidup bersama awan. Saya sendiri membeli sebuah sarung dan menggunakannya langsung, dan memang ampuh menolak udara dingin. Michael mengingatkan bahwa pukul 10 malam semua lampu akan dimatikan, jadi sebaiknya kami sudah selesai semua urusan termasuk mandi. Ya, mandi! Terdapat 3 kamar mandi untuk tamu, telah berlantai keramik dengan air jernih dan dingin tentunya. Saya sendiri tidak mandi karena tidak membawa handuk, tapi rasaya tak terlalu berkeringat, anggap sudah dimandikan awan selama nongkrong di Waerebo. Oh, kopi dan teh selalu tersedia di rumah, jangan malu untuk meminta ke Michael apabila kehabisan atau ingin meminta air panas untuk membuat popmie. Tidurpun nyaman karena kasurnya lumayan empuk (berupa kapuk yang dibungkus daun pandan, rasanya) serta diberikan bantal dan selimut tebal per orang.

makan malam bersama pengunjung lain
main Uno pengisi waktu malam
sarapan biar kuat treking lagi

Naluri tukang foto membuat saya beberapa kali melihat ke luar rumah berharap langit cerah untuk foto bintang-bintang, apa daya hari itu sangat berkabut, bahkan hingga esok harinya. Katanya memang sangat jarang bisa melihat bintang di Waerebo ketika malam hari. Esok paginya kami bisa melihat aktivitas warga memulai hari, mulai dari menjemur kopi hingga berangkat ke kebun. Sarapan dihidangkan pukul 7 pagi, menu kali ini: nasi kuning gurih, telor rebus, dan kerupuk. Lagi-lagi, enak! Nasi kuningnya saja sudah sangat pulen dan gurih. Selepas sarapan kami diijinkan langsung meninggalkan Waerebo, tak perlu ada upacara adat atau apapun lagi, selain membayar biaya menginap tentunya. Jadi setelah sarapan, kami beberes dan berat rasanya melangkahkan kaki untuk meninggalkan desa cantik ini (berat juga karena 30 menit pertama jalanannya menanjak). Perjalanan kembali lebih menantang, karena jalanan menurun dan licin membuat kami beberapa kali terpeleset. Setelah 1,5 jam, kami sampai di parkiran dan bernafas lega melihat motor masih terparkir rapi. Saya pun bernafas lega karena tak melihat satu lintahpun dalam treking Waerebo ini. Tepat di dekat parkiran terdapat sungai yang berair sangat jernih, disana kami membasuh muka dan sepatu yang telah dipenuhi lumpur tebal, kemudian melanjutkan perjalanan panjang kembali menuju Ruteng.

view selama treking

jalannya licin dan berlumpur

sungai jernih dan segar, with lil surprise

Buka mata, nikmatilah perjalanan!

Karena kami merasa begitu mengenal jalan, kami berkendara tanpa dibantu Gmaps menuju Ruteng, tak lupa berhenti sebentar di pesisir pantai untuk update sosmed karena sinyal 3G pertama kali ada di sana. Saat memeriksa HP itulah saya baru sadar bahwa ada seekor lintah gendut yang melekat di dekat jempol tangan! Lintah itu pasti sudah melekat selama 30 menit sejak di sungai parkiran motor! Dengan mudah saya sentil lindah itu dari tangan, dan meski darah susah berhenti, tidak ada perasaan gatal, tidak ada bentol, tak seperti setelah digigit nyamuk atau kutu busuk. Hei, digigit lintah tak seburuk itu! Pantas saja ada terapi kesehatan menggunakan lintah. Perjalanan kembali dilanjutkan, dengan kami masih terkagum-kagum dengan indahnya terasering sawah di sepanjang jalan. Sampai akhirnya kami tersasar ke Pantai! Ternyata kami lupa mengambil persimpangan ke kiri dan telah melenceng lumayan jauh dari jalur seharusnya, untungnya bisa buka Gmaps. Kali ini kami menghamba ke Gmaps untuk jalur kembali, dan ternyata kami diarahkan ke jalur lain menuju Ruteng, karena memang ada 2 jalur dari Ruteng ke Waerebo.

donor darah bagi lintah

Rute kali ini sama menantang dengan rute sebelumnya, kami harus melewati sempadan sawah lengkap dengan batu-batu besar berdirinya selama beberapa kilometer (serta dilihat dengan heran oleh petani-petani). Bagi saya pribadi rute kedua sebenarnya lebih baik dan lebih singkat dari rute kemarin. Selepas sawah-sawah, kami memasuki jalan aspal mulus, aspal sedang, hingga aspal tak berbentuk! Bahkan saya sempat berhenti untuk menolong anak kecil yang membawa pupuk sekarung, pupuknya jatuh dari boncengan karena lubang-lubang di jalan. Semakin mendekati Ruteng kami seperti memasuki kawasan hutan lindung begitu rindang, dan kabut begitu pekat menyelimuti, tapi pemandangan sepanjang jalan tetap terlihat indah. Sekitar 3 jam berkendara dan kami sampai lagi di Ruteng! Ruteng terasa hangat setelah melewati lautan kabut di perjalanan.

rute beda, indahnya sawah sama
hutan lindung yang rindang!
2 pilihan rute. Pilih tujuan: Satar Lenda

Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan kembali menaiki travel Gunung Mas  menuju Labuan Bajo, bedanya kali ini waktu tempuh nyaris 4,5 jam! Untungnya saya baru harus check in untuk Phinisi Trip paling lambat pukul 10 malam, dan telah tiba di Labuan Bajo pukul 8 malam, masih sempat mengunjungi Kampung Ujung dan mencicipi seafoodnya yang sudah kesohor. Suasana malam di pelabuhan Labuan Bajo begitu hidup (dibanding malam sebelumnya di Waerebo) dengan kerlap kerlip lampu hotel, homestay, restoran, dan kapal-kapal yang berlabuh, nyaris semuanya bersiap memulai perjalanan menuju indahnya pulau-pulau di Taman Nasional Pulau Komodo esok subuh.


Indahnya Flores, indahnya Indonesia, indahnya hidup ini!

Terima kasih telah membaca sejauh ini!

NB: Kunjungi instagram @sutejasastra dan lihat highlight story saya selama di Ruteng ^ ^

No comments:

Post a Comment