Tuesday, September 18, 2018

Ini Nostalgia


Menulis kembali di blog ini adalah nostalgia!

Siapa yang tak suka bernostalgia? Bahkan kenangan buruk di masa lalu bisa menjadi kisah seru dan lucu jika diingat sekarang, apalgi kenangan yang indah. Teman masa kecil, permainan tradisional di desa, lagu yang sering diputar di radio, film kartun Indosiar yang selalu ditunggu di Minggu pagi, hingga makanan yang rela dibeli dengan menempuh ratusan meter jalan kaki dan berhari-hari menabung (Ok, dalam kasus saya ini Nyam Nyam, di awal 90-an hanya sedikit yang menjualnya di Desa Penglatan).
Winspector dan robot kuning yang bisa jadi motor!

Nostalgia pula yang membuat Padi Reborn sanggup membius ribuan penonton di Soundrenaline 2018 meski setelah vakum 7 tahun dari belantika musik Indonesia dengan nama band  Padi. Lagu demi lagu andalan yang dibawakan fasih dinyanyikan oleh seluruh penonton, yang meski lupa tanggal jadian atau bahkan hari itu tanggal berapa, tapi ingat lirik lagu yang populer di era 1999 hingga 2000-an. "Tetaplah menjadi bintang di langit agar cinta kita akan abadiii..."

Monday, June 18, 2018

Menyatu Dengan Awan di Waerebo


Manusia berencana Tuhan menentukan

“Resmi, Pemerintah menambah cuti bersama Lebaran 2018.” Headline berita itulah yang saya tunggu-tunggu bulan lalu, membuat tahun ini menjadi liburan terpanjang dengan total 12 hari! Berbagai ide liburan berkelebat di kepala, mengingat mudik ke kampung halaman (yang cuma dari Lombok ke Bali) tak perlu waktu selama itu. Ingin ke Sumba tapi biayanya terlalu mahal untuk sendiri, akhirnya memutuskan ke Flores lagi (sebelumnya pernah Phinisi Trip 6D5N dari Lombok-Labuan Bajo-Lombok di 2015, dan liburan ke Maumere-Ende tahun 2017). Sebagai PNS di DJP, kami tersebar nyaris di seluruh pelosok negeri termasuk di Ruteng, kota terdekat menuju ke Waerebo. Ya, Waerebo! Desa misterius di atas awan yang mendapat penghargaan dari UNESCO-PBB, bukan main!

Monday, September 25, 2017

Desa Terpacu untuk Ekonomi Melaju


Menjadi petugas lapangan membuat saya lumayan sering berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal kondisi ekonomi secara riil khususnya di Lombok Timur dan Lombok Tengah, wilayah kerja saya 4 tahun belakangan. Dibandingkan 3-4 tahun lalu terjadi perubahan signifikan di desa-desa dengan adanya Program Dana Desa dari dana APBN, pembangunan terjadi nyaris di seluruh desa yang saya lewati dan kunjungi. Mungkin itu salah satu alasan saya menikmati kunjungan lapangan dengan sepeda motor karena bisa menelusuri jalan-jalan tanah yang baru dibuka, bukti bahwa jerih payah pengumpulan Pajak bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat hingga level terbawah.

Harus dipahami bahwa Pemerintahan yang sekarang berkonsentrasi untuk pembangunan infrastruktur di daerah terpencil, terluar, perbatasan, dan desa, sehingga program subsidi dan pembangunan di kota dikurangi, tentu masyarakat kota pada umumnya akan merasakan seakan-akan kondisi ekonomi begitu susah akhir-akhir ini (sampai tercetus istilah "kemana uang pergi? Kok usaha dimana-mana sepi!"). Pemerataan ekonomi yang dicita-citakan sejak Negara ini merdeka mungkin mulai terwujud saat ini. Sebagai gambaran, sejak 2015 setiap desa memperoleh dana untuk pembangunan infrastruktur lebih dari Rp500 juta, dan tahun 2017 nilainya telah lebih dari Rp700 juta. Tinggal dihitung ada berapa ratus desa di tiap kabupaten, maka nilai Dana Desa ini besar sekali!

Tuesday, May 30, 2017

Hidup adalah Persaingan


Beberapa bulan terakhir di instansi saya sedang gencar melakukan kunjungan ke masyarakat, jika sebelumnya yang kami kunjungi adalah mereka-mereka yang memiliki usaha besar atau ternama, maka kali ini yang lebih kecil pun disasar. Meski melelahkan, tapi selalu ada ilham dari setiap peristiwa, termasuk kunjungan-kunjungan ini. Sebagian besar mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah saya punya dan telah saya raih saat ini.

Sebelum heboh pro dan kontra terkait angkutan berbasis aplikasi atau online, sejak beberapa tahun lalu saya telah menyadari bahwa persaingan usaha bisa begitu berat dan untuk menjadi pengusaha berarti menjadi pejuang melawan persaingan. Setiap kali saya melihat ada warung atau kios atau toko yang tutup karena kalah bersaing, dalam hati saya berpikir bahwa mereka adalah pejuang yang gugur, yang akan bangkit kembali atau musnah dan tergantikan. Mereka adalah pejuang ekonomi, karena tanpa pengusaha dan pedagang (UMKM), ekonomi tidak akan hidup secara merata, dan bangsa ini akan sangat rentan diterpa krisis finansial apabila terlalu bergantung kepada korporasi besar seperti halnya telah terjadi di Amerika Serikat dan Eropa.

Wednesday, May 10, 2017

Komedi

Apa sih yang diinginkan oleh sebagian besar manusia di planet Bumi ini? Menjadi bahagia. Sementara sebagian besar manusia yang sedang berada di planet lain inginnya pulang ke Bumi.

Bahagia itu sesuatu yang sangat kompleks karena mensyaratkan berbagai kondisi, tak sesederhana WA dibalas oleh gebetan sudah ‘bahagia’, mungkin levelnya masih ‘senang’. Karena bahagia yang susah diraih, akhirnya orang akan cukup puas hanya dengan merasa senang, atau setidaknya bisa tertawa.

Tertawa kemudian menjadi sebuah kebutuhan, dan di saat ada kebutuhan muncul pula penawaran yakni berupa humor. Mulai dari humor yang ditulis di selembar perkamen di belantara Galia, badut kerajaan yang terancam diumpankan ke buaya jika lawakannya tak lucu, Charlie Chaplin yang bisa membuat orang terpingkal meski tanpa warna dan tanpa suara, hingga Kevin Hart yang mampu mengundang lebih dari 53 ribu orang memenuhi Philadelphia Stadium untuk menonton stand-up comedy-nya selama 1 jam non stop!