Saturday, September 11, 2021

Kintamani yang sedang digemari

"Promo menginap Rp200ribu semalam lengkap dengan sarapan, api unggun, view Gunung Batur, gratis tiket air panas, dan tersedia paket sunrise tracking."

Iklan di IG. Ternyata yang di foto itu owner-nya

Caption Instagram tersebut memancing perhatian saya dan membuka kembali peluang untuk liburan ke Kintamani dengan harga terjangkau. Jarak dari Jimbaran membuat liburan bermotor ke Kintamani terlalu melelahkan andai tak menginap. Pengalaman berlibur ke Kintamani sebelumnya sudah lebih dari tiga tahun lalu, bahkan saat itu pun biaya menginap dan makan di Kintamani termasuk lebih tinggi daripada Denpasar. Wajar sih mengingat lokasinya terpencil, kondisi serupa terjadi di Gili Trawangan dan Sembalun di Lombok.

Wednesday, August 11, 2021

Ayo Donor Plasma Konvalesen!


Pandemi Covid-19 telah berlangsung 1,5 tahun dan kalau boleh saya bagi menjadi 2 periode besar yakni periode pertama sejak pandemi mulai terjadi di awal 2020 hingga mulai ‘terkendali’ dan Indonesia seakan telah memasuki periode New Normal. Periode kedua terjadi saat varian Delta mulai masuk (Juni 2021) dan masih menimbulkan segala kekacauan hingga saat ini.


Kamu, saya, dan orang di sekitar kita kemungkinan besar berhasil melalui periode pertama pandemi dengan aman, tubuh yang sehat, sangat jarang terkena flu, dan tidak terjangkit Covid-19. Periode kedua, nah, periode kedua adalah saat kamu, saya, dan orang di sekitar kita telah terjangkit Covid-19, dan sayangnya sangat banyak yang tak mampu bertahan.


Tuesday, June 29, 2021

Demam Euro 2020

 

"Ketika kami kecewa setelah imbang 2-2 di Munich, sementara Jerman merayakannya, itu sukar dipercaya," kata Marco Rossi (Pelatih Timnas Hungaria) kepada M4 Sport, seperti dikutip UEFA.com. “Mereka telah bertarung seperti singa di tiga pertandingan. Kami tak pernah gentar dengan nama-nama besar yang kami hadapi. Mereka telah membuat seluruh negeri merasa bangga."

Penonton salut atas perjuangan Hungaria

Monday, August 31, 2020

Mengenal Tembakau Lombok

Menunggu orang tua panen
Menunggu orang tua panen
 

Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya selama menjadi Account Representative di KPP Pratama Praya yang memiliki wilayah kerja Lombok Tengah dan Lombok Timur (2013—2018).

Jika Anda pernah mengunjungi Lombok Tengah dan Lombok Timur, pasti pernah melihat lahan kebun tembakau terhampar di sepanjang perjalanan, khususnya di musim kemarau seperti bulan Agustus ini. Tembakau adalah komoditas paling tepat untuk ditanam di daerah kering dan minim curah hujan di Pulau Lombok bagian tengah, selatan, dan timur, seperti di Kecamatan Praya Timur, Terara, Sikur, dan Sakra. Daerah-daerah ini tak seberuntung Lombok Barat yang berlimpah air dan menjadi lumbung padi regional, atau daerah kaki Gunung Rinjani yang subur untuk aneka hortikultura. Tembakau hanya sekali musim tanam dalam setahun, tapi nilai ekonomisnya sangat tinggi, sehingga mampu untuk dijadikan mata pencaharian utama petani. Bahkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dari Pemerintah Pusat setiap tahunnya bernilai lebih dari Rp200 Miliar. Tembakau adalah penopang ekonomi bagi puluhan ribu petani dan ratusan ribu warga di Pulau Lombok.

Sunday, August 23, 2020

Tilik (2018): Merangkum Indonesia Dalam 30 Menit

 Film pendek berjudul Tilik (2018) karya Ravacana Film tayang di Youtube sejak 17 Agustus 2020 menjadi viral di berbagai media dan kini telah ditonton jutaan orang hanya dalam waktu beberapa hari saja. Banyak aspek dalam film ini yang membuat disukai penonton dan memenangkan beberapa penghargaan internasional, menurut saya pribadi film ini mampu merangkum banyak hal yang terjadi sehari-hari di Indonesia hanya dalam waktu 30 menit. Berikut daftarnya:

Dialog dengan view-nya kontras :D

 

1.    Jiwa sosial dan gotong royong

      Judul film ini sendiri berarti menjenguk, sesuai dengan ide ceritanya yakni perjalanan sekelompok ibu-ibu untuk menjenguk Bu Lurah yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Terdorong jiwa sosial yang tinggi, maka mereka rela melakukan perjalanan jauh untuk menjenguk, padahal di era modern kabar bisa disampaikan melalui gawai secara seketika. Untuk biaya perjalanan dan uang santunan ke Bu Lurah mereka melakukan pengumpulan uang, ini adalah contoh sederhanan gotong royong di Indonesia. Satu orang yang memberi santunan nilainya mungkin tidak seberapa, tapi ketika digabung dengan banyak orang, maka nilai uang santunannya menjadi sangat berarti bagi yang menerima.