Skip to main content

Demam Euro 2020

 

"Ketika kami kecewa setelah imbang 2-2 di Munich, sementara Jerman merayakannya, itu sukar dipercaya," kata Marco Rossi (Pelatih Timnas Hungaria) kepada M4 Sport, seperti dikutip UEFA.com. “Mereka telah bertarung seperti singa di tiga pertandingan. Kami tak pernah gentar dengan nama-nama besar yang kami hadapi. Mereka telah membuat seluruh negeri merasa bangga."

Penonton salut atas perjuangan Hungaria

Timnas Hungaria bangkit dari mati suri. Setelah 49 tahun tak pernah tampil di Euro, The Magyars bereinkarnasi dengan rapor yang tak bisa dipandang sebelah mata. Berada di “Grup Neraka” bersama Prancis, Portugal, dan Jerman, Hungaria yang diprediksi akan menjadi bulan-bulanan, ternyata di akhir putaran grup sanggup berjuang mengumpulkan 2 poin dari hasil imbang atas Prancis dan Jerman.

Itulah sedikit dari banyak drama dalam gelaran kejuaran sepakbola antar negara di Benua Eropa atau yang disebut Euro 2020. Usai ditunda setahun dari jadwal semula, Euro 2020 akan digelar pada 11 Juni -- 11 Juli 2021. Tuan rumah yang ditunjuk adalah London, Roma, Bilbao, Amsterdam, Dublin, Munich, Budapest, Glasgow, Bucharest, Kopenhagen, Baku, dan Saint Petersburg.

Masing-masing kota akan menggelar 4 laga, kecuali London, di mana stadion Wembley akan menggelar 7 laga, termasuk dua laga semifinal dan partai final. Format tuan rumah yang berbeda ini dilakukan dalam rangka perayaan 60 tahun Piala Eropa, yang pertama kali diselenggarakan pada 1960.

Keputusan tetap menyelenggarakan Euro 2020 di tengah pandemi Covid-19 tentu mengundang pro dan kontra. Pihak pendukung merasa bahwa sebagian besar Eropa telah melakukan vaksin pada lebih dari setengah penduduknya, ditambah faktor ekonomi berupa pemasukan dari demam Euro 2020 akan sangat membantu kota penyelenggara di tengah lesunya ekonomi. Pihak kontra tentu mempertanyakan dampak hadirnya penonton di stadion dan kerumuman pasca pertandingan, apalagi terdapat varian-varian baru yang lebih ganas dari Virus Covid-19. Apapun itu, Euro 2020 tetap terselenggara (sejauh ini).

Mengulik istilah “demam” yang biasa dilekatkan pada gelaran sepakbola, tampaknya menggambarkan betapa euforia akan Euro 2020 ini akan menyebar cepat seperti influenza ke semua orang, pecinta sepakbola kawakan maupun mereka yang hanya penikmat sesaat. Media sosial dipenuhi berita tentang Euro 2020, banyak pula acara nonton bareng yang diselenggarakan di berbagai tempat (di tengah segala pembatasan akibat pandemi).

Drama! Dalam 1 menit banyak hal bisa terjadi

Saya sendiri terkena demam Euro 2020 secara kiasan dan harfiah. Untuk menikmati gelaran Euro 2020 secara resmi, Saya berlangganan paket Mola TV Rp25.000,00 dan bebas menonton seluruh pertandingan dari seluruh gawai. Karena sudah berlangganan dan tak mau rugi, Saya menonton setiap hari minimal 1 pertandingan dan biasanya di jam 3 pagi.

Setelah 5 hari beruntun begadang, jadilah terkena demam dalam arti harfiah, kondisi tubuh drop dan meriang, dan celakanya Saya memaksakan masuk kantor di saat kondisi seperti itu. Ndilalah ada rekan kerja yang terpapar Covid-19 sepulang perjalanan dari Jakarta, dan dengan senang hati virus tersebut singgah di tubuh yang lemah ini pasca diuji dengan PCR Swab Test Covid-19.

Apakah kebetulan kasus Covid-19 meningkat ketika gelaran Euro 2020 dimulai? Atau jangan-jangan banyak korbannya seperti Saya yang lupa dengan menjaga kondisi tubuh akibat begadang, dan akhirnya mudah terinveksi virus meski telah divaksin? Semoga pembaca tulisan ini selalu diberi nikmat sehat dan terhindar dari segala sakit penyakit. Salam Sehat!

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...