Skip to main content

Saya Tak Suka Kejahatan

Lho, memang ada yang suka?
Ada kok. Penjahat memiliki istri dan anak-anak yang mencintainya. Perusahaan pembakar hutan Sumatera dan Kalimantan memiliki banyak karyawan yang menggantungkan isi periuk nasinya dari keberadaan perusahaan itu. Ajaran atau aliran sesat juga dihormati oleh penganutnya dan dibanggakan oleh penciptanya.

Kejahatan akan selalu ada di dunia ini seberapapun dicoba untuk dibasmi, karena adanya kejahatan membuat keseimbangan dengan kebaikan. Dalam budaya Bali hal ini disebut 'Rwa Bhineda'; sastrawan menyatakannya sebagai 'dua sisi mata uang'; ekonom mengandaikan seperti 'permintaan' dan 'penawaran'; bahkan atom yang menyusun semua materi terdiri dari proton (+) dan elektron (-).

Tapi tetap saya tak suka kejahatan.

Beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang ada wisatawan asing yang menjadi korban pembacokan dan perampokan di salah satu kawasan wisata di Lombok. Saya sedih karena Lombok yang memiliki keindahan alam luar biasa menawan (dan lengkap) harus ternoda kejadian itu. Bahkan siang ini saat mengunjungi seorang pemilik hotel di salah satu lokasi berselancar utama di Lombok, dia menyampaikan bahwa hotelnya sangat sepi karena tak ada yang berani keluar malam takut adanya perampokan. Di Indonesia mungkin hal-hal seperti ini tak terdengar, tapi di luar negeri berita kriminal terhadap wisatawan asing masuk ke media nasional dan internet, dan sangat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk datang ke Indonesia.

Semakin saya tak suka kejahatan, karena tindakan perampok itu membuat industri pariwisata terhambat, padahal pariwisata adalah industri padat karya dan kebetulan Indonesia ini dititipkan modal keindahan alam oleh Tuhan. Wisatawan asing rela bepergian melintasi setengah Bumi demi merasakan sendiri titipan Tuhan itu. Setengah Bumi! Tuan rumah saya yang sekarang promosi di Papua saja butuh 2 hari untuk pulang ke Lombok.

Makanya saya tak suka kejahatan.

Selama perjalanan tadi seorang teman bercerita bahwa dia baru saja kehilangan Drone yang baru dibelinya di Bandara. Drone yang dikemas dalam sebuah box itu hilang ketika pengambilan bagasi. Petugas bandara menyatakan box seberat 8 kg itu hilang dan mengganti rugi sebesar Rp200.000,00 per kilogram. Dan teman saya membeli Drone itu seharga Rp16 juta! Dia bilang "yah belum rejeki. Nanti kerja lagi nabung lagi, semoga bisa beli lagi".

Andai Indonesia bisa seperti Swedia dan Belanda yang saking sedikitnya kriminalisme, menutup belasan penjara karena kekurangan narapidana. Atau seperti Cina yang menghukum mati para koruptor, atau setidaknya pejabatnya seperti di Jepang yang Korea Selatan yang segera mengundurkan diri jika gagal apalagi melanggar norma-norma yang berlaku.

Andai Indonesia bisa seperti itu, saya tetap tak suka kejahatan.

P.S. : bukan berarti saya tak pernah berbuat jahat dan tak akan pernah berbuat jahat.


Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Sisi Lain Lombok Yang Mungkin Tak Kamu Ketahui (Part 1)

Siapa sih yang tak kenal Pulau Lombok saat ini? Terakhir, Pulau Lombok dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia, mengalahkan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Pulau Lombok juga berulang kali masuk nominasi pulau terindah di Asia bersama dengan Pulau Bali. Masih kurang bukti? Acara jalan-jalan di TV berulang kali berkunjung ke Lombok, baik yang sekedar jalan kaki di pinggir pantai Gili Trawangan, berenang diantara ikan-ikan dan terumbu karang di Gili Kondo, mancing di Sekotong Barat, hingga mendaki Gunung Rinjani, dan mengendarai motor trail menaiki Bukit Marese. Bahkan grup jalan-jalan Lombok makin hits dan anggotanya bertambah terus, baik di Instagram maupun di kenyataan saat gathering . Meski telah dipublikasikan secara luas, masih ada hal-hal unik tentang Pulau Lombok yang mungkin tidak diketahui secara luas dan mungkin hanya ada di Lombok. Mungkin tidak ada di tempat lain, karena belum 1% dari Republik Indonesia tercinta ini yang saya tinggali , baru perna...