Skip to main content

Biar Greget!


Sebagai penghuni Kota Mataram tapi bekerja di 'Kota' Praya, perjalanan pulang pergi sejauh 50 Km sudah menjadi keseharian kami. Berangkat pagi biasanya ditempuh dalam waktu 20-30 menit, semakin siang berangkat semakin lama waktu tempuh karena jalanan semakin ramai. Pulang dari kantor biasanya memakan waktu lebih lama, sekitar 45-60 menit kadang bisa lebih dari 1 jam jika ada Upacara Adat Pernikahan Suku Sasak atau dikenal dengan istilah 'Nyongkolan'. Tapi demi menonton Star Wars yang tayang pukul 18.15, saya berangkat dari kantor pukul 17.30 dan sampai di XXI LEM pukul 18.05! Bener-bener Greget rasanya di jalan! Dan terbayar tuntas dengan keren dan epic-nya Star Wars yang baru.

Meskipun cuma sebentar, tapi tampilnya trio aktor Indonesia di film sebesar Star Wars sangat membanggakan, terutama untuk Yayan Ruhian yang berperan sebagai Tasu Leech, pimpinan kelompok Kanjiklub. Yayan Ruhian sebelumnya dikenal lewat perannya di film Merantau, The Raid 1 dan The Raid 2, tapi sosoknya sebagai Mad Dog di The Raid 1 yang paling fenomenal di dunia maya, dengan semboyan "Biar Greget" yang akhirnya jadi meme yang sangat sering digunakan di internet. Yayan Ruhian tak berwajah rupawan seperti Nicolas Saputra, tak lagi muda seperti Al Ghazali, bukan pula penyanyi yang mencoba peruntungan di dunia film seperti Anisa Rahma (eks Cherrybelle), tapi sekalinya bermain film di Amerika (Hollywood! tak sekedar syuting di Amerika) langsung berperan di saga Star Wars. Ini baru greget!

Setiap kali membaca atau mendengar frase "biar greget" ingatan saya seringkali berkelebat di beberapa kejadian di masa kecil yang memang mengandung unsur greget. Kejadian pertama saat masih SD, dan rumah yang kami tinggali sekarang sedang dibangun. Saat itu orang tua membangun rumah sendiri dan kami anak-anaknya ikut serta membantu. Saya paling ingat hampir setiap hari pulang sekolah mendapat tugas membuat gelang-gelang atau cincin besi atau sengkang untuk bahan pondasi tiang beton. Jadi saat anak-anak lain pulang sekolah bisa bermain gundu, main lempar kartu, main bekel, saya bersaudara sibuk melengkungkan besi, biar greget!

Kejadian kedua akhir-akhir ini sudah tak terjadi lagi, tapi dulu Ibu saya sangat suka makanan super pedas tapi tetap enak, dan masakan andalannya adalah Plecing Kacang Panjang. Ibu akan membuat plecing langsung di aduk dengan sambel di atas cobek, yang membuat berbeda itu jumlah cabainya bisa sampai belasan bahkan lebih. Jadi kami semua akan makan sambil kepedesan, ingus keluar, mata berair, dan keringetan, serta kehausan. Sayangnya karena kami sangat banyak (total 7 orang) sedangkan ketel air cuma 1, jadi seringkali di tengah prosesi makan, air minum habis dan kami terpaksa meminum air yang baru saja dimasak. Posisi sangat kepedesan lalu minum air panas, rasanya memang benar-benar greget! Saat itu Ibu selalu mengingatkan kalau air panas bagus untuk menetralkan pedas (dan secara ilmiah juga benar demikian, senyawa Capsaicin yang merupakan sumber pedas dari cabai akan hanyut oleh air panas).

Kejadian terakhir adalah pengalaman masa kecil anak-anak di kampung yang menyelesaikan sendiri urusan gigi-gigi yang tanggal. Saya sendiri pernah mencabut gigi yang sudah sangat goyah dengan benang (beberapa kali) atau beberapa kali dengan memuntir-muntir gigi yang goyah hingga akhirnya lepas (meski cara ini katanya yang membuat gigi tumbuh berantakan). Selain dua cara itu, ada lagi cara yang lebih greget yakni Bapak akan mencabut gigi yang sudah goyah dengan Tang! Saya masih ingat aroma besi, warna karet merah pegangan tang, dan dinginnya tang ketika mulai menjepit gigi, dan sensasi menegangkan/menyakitkan/menakutkan ketika gigi akhirnya tercabut dari gusi. Ouch!


Apapun itu, yang greget di masa lalu jadi kenangan indah di masa sekarang.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...