Monday, December 28, 2015

Biar Greget!


Sebagai penghuni Kota Mataram tapi bekerja di 'Kota' Praya, perjalanan pulang pergi sejauh 50 Km sudah menjadi keseharian kami. Berangkat pagi biasanya ditempuh dalam waktu 20-30 menit, semakin siang berangkat semakin lama waktu tempuh karena jalanan semakin ramai. Pulang dari kantor biasanya memakan waktu lebih lama, sekitar 45-60 menit kadang bisa lebih dari 1 jam jika ada Upacara Adat Pernikahan Suku Sasak atau dikenal dengan istilah 'Nyongkolan'. Tapi demi menonton Star Wars yang tayang pukul 18.15, saya berangkat dari kantor pukul 17.30 dan sampai di XXI LEM pukul 18.05! Bener-bener Greget rasanya di jalan! Dan terbayar tuntas dengan keren dan epic-nya Star Wars yang baru.

Meskipun cuma sebentar, tapi tampilnya trio aktor Indonesia di film sebesar Star Wars sangat membanggakan, terutama untuk Yayan Ruhian yang berperan sebagai Tasu Leech, pimpinan kelompok Kanjiklub. Yayan Ruhian sebelumnya dikenal lewat perannya di film Merantau, The Raid 1 dan The Raid 2, tapi sosoknya sebagai Mad Dog di The Raid 1 yang paling fenomenal di dunia maya, dengan semboyan "Biar Greget" yang akhirnya jadi meme yang sangat sering digunakan di internet. Yayan Ruhian tak berwajah rupawan seperti Nicolas Saputra, tak lagi muda seperti Al Ghazali, bukan pula penyanyi yang mencoba peruntungan di dunia film seperti Anisa Rahma (eks Cherrybelle), tapi sekalinya bermain film di Amerika (Hollywood! tak sekedar syuting di Amerika) langsung berperan di saga Star Wars. Ini baru greget!

Setiap kali membaca atau mendengar frase "biar greget" ingatan saya seringkali berkelebat di beberapa kejadian di masa kecil yang memang mengandung unsur greget. Kejadian pertama saat masih SD, dan rumah yang kami tinggali sekarang sedang dibangun. Saat itu orang tua membangun rumah sendiri dan kami anak-anaknya ikut serta membantu. Saya paling ingat hampir setiap hari pulang sekolah mendapat tugas membuat gelang-gelang atau cincin besi atau sengkang untuk bahan pondasi tiang beton. Jadi saat anak-anak lain pulang sekolah bisa bermain gundu, main lempar kartu, main bekel, saya bersaudara sibuk melengkungkan besi, biar greget!

Kejadian kedua akhir-akhir ini sudah tak terjadi lagi, tapi dulu Ibu saya sangat suka makanan super pedas tapi tetap enak, dan masakan andalannya adalah Plecing Kacang Panjang. Ibu akan membuat plecing langsung di aduk dengan sambel di atas cobek, yang membuat berbeda itu jumlah cabainya bisa sampai belasan bahkan lebih. Jadi kami semua akan makan sambil kepedesan, ingus keluar, mata berair, dan keringetan, serta kehausan. Sayangnya karena kami sangat banyak (total 7 orang) sedangkan ketel air cuma 1, jadi seringkali di tengah prosesi makan, air minum habis dan kami terpaksa meminum air yang baru saja dimasak. Posisi sangat kepedesan lalu minum air panas, rasanya memang benar-benar greget! Saat itu Ibu selalu mengingatkan kalau air panas bagus untuk menetralkan pedas (dan secara ilmiah juga benar demikian, senyawa Capsaicin yang merupakan sumber pedas dari cabai akan hanyut oleh air panas).

Kejadian terakhir adalah pengalaman masa kecil anak-anak di kampung yang menyelesaikan sendiri urusan gigi-gigi yang tanggal. Saya sendiri pernah mencabut gigi yang sudah sangat goyah dengan benang (beberapa kali) atau beberapa kali dengan memuntir-muntir gigi yang goyah hingga akhirnya lepas (meski cara ini katanya yang membuat gigi tumbuh berantakan). Selain dua cara itu, ada lagi cara yang lebih greget yakni Bapak akan mencabut gigi yang sudah goyah dengan Tang! Saya masih ingat aroma besi, warna karet merah pegangan tang, dan dinginnya tang ketika mulai menjepit gigi, dan sensasi menegangkan/menyakitkan/menakutkan ketika gigi akhirnya tercabut dari gusi. Ouch!


Apapun itu, yang greget di masa lalu jadi kenangan indah di masa sekarang.

2 comments: