Skip to main content

Google (Part 2)

Tahukah Anda sumber pendapatan utama Google? Nyaris 99% sumbernya berasal dari iklan yang bernama ‘Google Adwords’. Melalui ‘Google Adwords’ para pengiklan bisa menampilkan situsnya di halaman hasil pencarian Google. Misalnya saat kita mengetik “belanja online barang second” maka hasil pencarian akan mengarahkan ke situs seperti ‘Toko Bagus’ atau ‘Berniaga’ di urutan teratas, bukan ke situs seperti ‘Bang Jali Punya Loakan’. Inilah fungsi ‘Google Adwords’ dimana pengiklan membayar sejumlah uang untuk suatu kata kunci dan akan menampilkan situsnya sebagai jawaban dari hasil pencarian yang sesuai dengan kata kunci.


Proses bisnis yang sederhana, tapi kejeniusan pendiri Google membuat hal yang sederhana itu menjadi sumber pendapatan yang luar biasa. Kelebihan utama mesin pencari Google adalah hasil pencarian yang sangat relevan dengan kata kunci yang dimasukkan. Saking relevannya, orang seringkali hanya melihat hasil pencarian di halaman 1 Google, jika hasilnya tak ada di halaman 1, maka kata kunci yang biasanya diganti. Sampai ada anekdot: Jika mau menyembunyikan barang, taruh saja di halaman 3 Google, niscaya tak ada orang yang melihatnya, hehe..

Dengan besarnya pendapatan Google sekarang dan melimpahnya aset yang dimiliki, bisa dibayangkan CEO Google adalah orang yang sangat sibuk. Saya teringat ketika seorang teman yang berdomisili di Amerika Serikat, sekalinya pulang ke Bali dia ingin bertemu dengan teman-temannya di masa sekolah dulu, teman nongkrongnya. Namun dia sangat kecewa karena setiap yang dihubungi menyatakan sibuk kerja, sibuk mengurus anak, dan lainnya, sampai-sampai dia berkata ‘mereka sibuk bagaikan jadi CEO Google saja!’ Istilahnya ngena banget! Hahaha.. Sampai sekarangpun istilah itu masih melekat di kepala saya.

Extras:
Ini contoh para calon CEO Google di masa datang, selalu sibuk, berkendara di jalan masih sempat untuk membalas pesan singkat (SMS) atau chatting. Saya membayangkan saking pentingnya isi pesan yang diterima sehingga harus dibalas di jalan dan membahayakan jiwa diri dan orang lain, pasti melibatkan perjanjian bisnis jutaan bahkan miliaran rupiah.

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Pengabdian

Seorang rekan kerja dan sahabat resmi kami lepas ke masa pensiunnya hari ini. Selama lebih 25 tahun dia abdikan dirinya untuk Kementerian Keuangan, terutama di Direktorat Jenderal Pajak. Memang baru 4 tahun saya mengenal Pak Yasiman, tapi 4 tahun itu menanamkan banyak hal yang sangat penting bagi saya untuk mengarungi jalan panjang saya sebagai PNS atau ASN. Di akhir masa jabatannya Pak Yasiman masih bersemangat bekerja, bahkan Jumat lalu masih lembur untuk menyelesaikan laporan Penghapusan Sanksi Secara Jabatan. Jarak rumah ke kantor sejauh 25 km ditempuh setiap hari dengan sepeda motor, dan masih harus berkendara puluhan kilometer lagi untuk menjangkau lokasi Wajib Pajak di pelosok Lombok nan luas. Ketika kembali dari perjalanan dinas, Pak Yasiman masih sempat menceritakan beberapa cerita dan lelucon kepada kami (memang stok leluconnya tak pernah habis!). Pelajaran yang akan selalu saya ingat untuk Tetap Semangat!