Skip to main content

Google (part 1)

Kata 'Google' telah menjadi kata yang sama ikoniknya dengan 'Internet', sebagian besar pengguna internet saya rasa rutin menggunakan mesin pencari tersebut. Bahkan standar untuk mengetahui internet hidup atau tidak adalah dengan membuka laman Google, jika terhubung berarti ada sambungan internet meski koneksinya sangat lambat sekalipun. Saking seringnya dipakai, kata 'Google' kemudian menjadi kata resmi dalam bahasa inggris yang artinya "pencarian informasi tentang seseorang atau sesuatu di internet menggunakan mesin pencari Google".

Uniknya istilah 'Google' sendiri awalnya tercipta karena kesalahan pengejaan. Pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, awalnya bermaksud memberi nama situs buatannya 'Googol' yang artinya satuan angka sangat besar, 1 diikuti 100 nol. Sebagai perbandingan 1 triliun adalah angka 1 diikuti 12 nol. 'Googol' dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa situs itu akan menyediakan basis data yang besar. Akhirnya nama yang salah eja menjadi hoki tersendiri dan menjadikan Google saat ini sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia, dan telah mengakuisisi ratusan perusahaan lainnya, termasuk situs Youtube.


Google juga telah memudahkan hidup umat manusia selama 2 dekade belakangan, menghemat waktu yang sangat berharga dalam melakukan pencarian di internet. Kita bisa mencari nyaris semua hal di Google, saya pernah memasukkan salah satu soal mata kuliah Manajemen Keuangan (soal hitungan) dan ada yang membahasnya di internet! Andai sudah paham teknologi ini sejak SMA, mungkin mengerjakan tugas tak usah pusing-pusing buka buku, cukup googling saja.

Di balik kemudahan akan ada dampak negatif. Di balik kemudahan mencari apa pun dengan Google, saya rasa daya ingat dan kreativitas otak saya menurun, atau memang karena faktor usia juga (haha..). Tak perlu mengingat nama situs bola Goal Indonesia, cukup ketikkan 'goal' di Google; tak perlu hapal kode pos rumah, cukup googling saja, cepat.

Beberapa hari yang lalu saya mencoba menantang otak saya untuk bekerja tanpa Google. Ada 2 kata bahasa asing yang entah kenapa terngiang-ngiang di kepala, 'Teens' dan 'aka'. Setahu saya 'Teens' itu artinya remaja atau belia, tapi setelah saya uraikan di kepala sepanjang perjalanan mengendarai motor dari kost ke Selong (sekitar 45 km) saya sampai pada kesimpulan kata itu berasal dari usia mereka yang bisa dikategorikan remaja, yakni 13 (thirteen) 14 (fourteen) 15 (fifteen), dan seterusnya sampai 19 (nineteen). Aha! ketemu 1! Bangga juga tanpa harus menyentuh Mister Google. Masih di perjalanan yang sama kemudian saya coba mengurai 'aka' yang biasanya untuk penyebutan 'alias', singkatan dari apakah mahluk 'aka' ini? Setelah otak saya loading beberapa lama, sampai kepada kesimpulan bahwa 'aka' adalah singkatan dari 'Also Known As'. Nah, pas!

Jadi Google, terima kasih atas semua jasamu, tapi (otak) saya tak akan takluk olehmu! hahaha..

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Sisi Lain Lombok Yang Mungkin Tak Kamu Ketahui (Part 1)

Siapa sih yang tak kenal Pulau Lombok saat ini? Terakhir, Pulau Lombok dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia, mengalahkan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Pulau Lombok juga berulang kali masuk nominasi pulau terindah di Asia bersama dengan Pulau Bali. Masih kurang bukti? Acara jalan-jalan di TV berulang kali berkunjung ke Lombok, baik yang sekedar jalan kaki di pinggir pantai Gili Trawangan, berenang diantara ikan-ikan dan terumbu karang di Gili Kondo, mancing di Sekotong Barat, hingga mendaki Gunung Rinjani, dan mengendarai motor trail menaiki Bukit Marese. Bahkan grup jalan-jalan Lombok makin hits dan anggotanya bertambah terus, baik di Instagram maupun di kenyataan saat gathering . Meski telah dipublikasikan secara luas, masih ada hal-hal unik tentang Pulau Lombok yang mungkin tidak diketahui secara luas dan mungkin hanya ada di Lombok. Mungkin tidak ada di tempat lain, karena belum 1% dari Republik Indonesia tercinta ini yang saya tinggali , baru perna...