Skip to main content

Tua Itu Alami, Dewasa itu Wajib

Judul tulisan ini mungkin mengundang kritik dan bilang “salah itu Pak, yang benar ‘Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan’”. Dipanggil “Pak” saja sudah membuat saya merasa tua. Dan benar saya sudah tua, terbukti ketika membuka Facebook dan BBM yang dihiasi foto anak balita dari teman-teman seangkatan bahkan adik kelas. Lebih terasa lagi ketika berkenalan dengan anak-anak Magang/PKL dan saat saya tanya mereka lahir tahun berapa, dijawab tahun ‘95-’96, wow, I’m 10 years older than them! But I don’t feel that old, hahaha..


Bagi saya dewasa itu wajib, jika seseorang sudah mencapai suatu tingkat umur atau mempunyai status sosial tertentu atau menduduki jabatan publik. Apa yang terjadi ketika menjadi dewasa itu dijadikan sebuah pilihan?
  1. Suami yang lebih memilih bermain game di komputer saat libur akhir pekan dibanding memanfaatkan waktu untuk memberi perhatian penuh pada istri dan anaknya; 
  2. Wanita karier berusia 24 tahun yang memilih menghabiskan semua penghasilannya untuk hang outs, dugem, dan berburu baju serta tas branded, tapi masih tinggal bersama orang tuanya; 
  3. Seorang suami/istri memilih untuk mencari kekasih simpanan, dengan alasan pasangan resminya tak mampu memberikan kebahagiaan yang diinginkan atau sudah tak cocok lagi.

 Wajib berarti anda harus melakukan semua yang diperlukan untuk itu. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi orang super serius dan menghilangkan semua sifat kekanak-kanakan dalam diri, karena sifat itu yang membuat kita lebih hidup. Bukan juga mengganti lagu favorit dari lagu Punk menjadi lagu Jazz, atau hobi futsal berganti ke tenis. Menjadi dewasa berarti:
  1. Rela mengorbankan sedikit saja hobi atau kesenangan, untuk orang-orang di sekitar yang memang telah menjadi bagian dari kehidupan kita, yakni anak dan istri; 
  2. Berpikir dan mempersiapkan masa depan, karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Menabung atau berinvestasi adalah harus! Bahkan seorang pemulung mampu menabung untuk bisa menyumbangkan daging qurban saat Hari Raya Idul Adha; 
  3. Menghadapi masalah yang datang dan berusaha mencari solusi, bukan lari dari masalah dan membiarkan masalah itu menjadi ‘api dalam sekam’ yang siap ‘membakar’ anda kapan pun. Face it, be a Man!

 I’m not that mature yet, but I’m sure I work my a*s out to become one.

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...