Monday, October 7, 2013

Serba 50

Korupsi dalam arti yang luas, adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Korupsi adalah momok menakutkan bagi setiap organisasi, karena kekuatannya yang maha dasyat, bagai air bah yang bisa meluluhlantakkan tembok kokoh dan bendungan terkuat. Tidak hanya pemerintahan, pihak swasta pun sangat terancam oleh praktek korupsi ini, seperti diangkat dalam film The Informant! sebuah kisah nyata tindak korupsi yang dilakukan oleh Mark Whitacre terhadap perusahaan ADM hingga jutaan dolar amerika.

Apalagi di Indonesia, tindakan korupsi acap kali menjadi berita utama di berbagai media, karena memang Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Tapi kisah yang hendak saya ceritakan tidak terjadi di Indonesia, tapi di Saldonesia.


Kisah pertama terjadi di sebuah Hotel Bintang Lima ternama.
Sebagai hotel besar, manajemen mempekerjakan banyak karyawan asing yang konon katanya memiliki kinerja yang jauh lebih baik daripada karyawan lokal. Masalah terjadi ketika pengurusan keimigrasian seorang karyawan asing bermasalah, jika pihak manajemen terlambat mengurus ijin imigrasi, maka ancaman deportasi di depan mata.
Karena panik, manajemen kemudian mendatangi kantor Imigrasi setempat dan dipertemukan dengan pimpinannya. Dengan tenang si pimpinan berujar bahwa urusan imigrasi ini bisa diselesaikan dengan cepat asalkan pihak manajemen menyediakan dana 50 Juta. Wow! Entah apa yang terjadi berikutnya, yang jelas masalah tersebut ajaibnya bisa terselesaikan.

Kisah kedua terjadi di sebuah pulau kecil di negeri Saldonesia.
Seorang pegawai pemerintahan Saldonesia mencoba peruntungannya dengan membeli sebidang tanah di pinggir pantai sebuah pulau kecil, sebagai tabungan di hari tua. Karena pulau itu kemudian menjadi objek wisata ternama, harga tanah sang pegawai juga meningkat pesat.
Ketika hendak mengurus sertifikat tanah tersebut agar dibalik nama menjadi nama sang pegawai, alangkah terkejutnya dia ketika pimpinan kantor pertanahan meminta biaya sebesar 50 Juta! Sang pegawai dengan nekat mencoba menawar biaya tersebut, hingga akhirnya tercapai kesepakan dengan "hanya" 35 Juta pengurusan sertifikatnya bisa terlaksana. Fiuh!

Kisah ketiga terjadi di sebuah warung makan sederhana.
Pemilik rumah makan yang telah lama menabung, ingin mencoba peruntungannya dengan masuk ke usaha transportasi. Kebetulan ada pelanggan rumah makan yang menawarkan bis bekas berkapasitas 30 tempat duduk dengan harga yang bersahabat.
Dengan mengandalkan tabungannya selama ini, pemilik rumah makan yakin bisa membeli bis ini, namun untuk pengurusan balik nama dan plat nomor bis ini dia masih harus menyediakan dana 50 Juta bagi Operator Lalu Lintas. Dengan berat hati sang pemilik warung makan menyanggupi, meski harus menyicil, sudah kepalang tanggung.

Inilah kisah di negeri kepulauan yang subur di tengah Samudera Pasifik, yang bernama Saldonesia, dimana saldo di rekening lebih penting daripada integritas dan hukum yang berlaku. Saldo di rekening sendiri, rekening istri, rekening pacar, rekening teman wanita, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment