Friday, October 18, 2013

Oleh-oleh dari Bali


Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja).
Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih.
  1. Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer truk di jalan menuju Pelabuhan Padangbai. Sungguh sangat disayangkan karena tentu merugikan bagi semua pihak, termasuk istri para supir truk yang harus menunggu lebih lama bertemu belahan jiwanya.
  2. Program OCD yang saya ikuti tampaknya berhasil, atau terlalu berhasil malah, sehingga lingkar pinggang saya yang awalnya 34 sampai menjadi tinggal 30 (itupun agak longgar). Namun sang pacar tak setuju saya menjadi terlalu kurus, memang sih rasanya kok kembali ke jaman mahasiswa, hahaha.. Maka program penggemukan saya jalankan sekarang (maklum sayang istri, aiss).
  3. Akhirnya saya pernah lewat tol Bali Mandara! Meski tak lebar, entah kenapa jadi indah kalau lewat tol ini. Tak heran ada beberapa kendaraan yang berjalan pelan untuk menikmati pemandangan, bahkan paling ekstrim ada sepeda motor yang berhenti, dan kedua pengendaranya (cow-cew) nongkrong di tembok pembatas! Kebetulan saat itu memang sedang sunset dan terlihat jelas dari atas tol.
  4. Minggu kedua Oktober adalah minggu sibuk bagi para penerima undangan pernikahan, ada yang mendapat sampai 3 undangan pernikahan untuk hari yang sama. Minggu itu saya mendapat 3 undangan, tapi hanya mampu menghadiri satu, yakni pernikahan Maharta. Seperti biasa saya dan Winda selalu mengevaluasi setiap pernikahan, dan untuk pernikahan Maharta kesimpulannya bagus! Pengantin tampil cakep dan tanpa lelah melayani obrolan tamu-tamu (kami datang jam 8 malam), suasana rumah yang asri dan bersih, serta panggung yang memadai. Begitu pula alunan musik tradisional yang disuguhkan live. Nilai tambahnya, saya bisa bertemu teman-teman alumni STAN yang juga datang, ada dari Jakarta, Kalimantan, bahkan Papua.
  5. Selama 4 hari, salah satu hal yang saya perhatikan adalah "populasi" mobil warna putih yang melimpah di Bali, mengalahkan mobil warna hitam yang dulunya merajai jalanan. Menurut teori ngasal saya, hal ini disebabkan karena mobil berwarna putih tampak lebih elegan dan lebih mahal. Lihat Avansa putih melintas kali-kali aja dikira Innova atau malah CR-V! Baru sadar juga kalau motor saya sekarang warnanya putih (dulunya hitam).
  6. Bulan Oktober ini juga kami merayakan 7 tahun pacaran, lumayan lama, kalau kuliah kedokteran, sudah jadi spesialis sekarang (kata seseorang). Kami cukup bangga karena selama 7 tahun, hubungan kami tetap bertumbuh, tak seperti mitos yang biasa dikatakan kalau terlalu lama pacaran malah bosan. We live happily, we love truthfully, and we enjoy every moment we spent together. 

4 comments:

  1. Makasi jat .. Kaden komen ttg teknik penulisan .. Hehe ..

    ReplyDelete
  2. sangat lekat dengan pengalaman di dunia nyata dengan menyertakan data yang cukup dan tidak njelimet
    great writing yu!

    ReplyDelete
  3. makasii .. ya maunya memang pengalaman + data .. masih belajar nulis yg baik dan benar..

    ReplyDelete