Friday, September 13, 2013

Saat Teori (Tak Lagi) Menjadi Batasan

Belajar adalah bagian penting dari hidup manusia, sejak manusia prasejarah pertama kali mengenal api, sampai balita pertama kali bermain Angry Birds di smartphone ayahnya. Tuhan menganugerahi manusia otak yang begitu luar biasa yang sanggup berpikir, berkeinginan, berkembang, dan belajar ke tingkat yang tak dapat kita bayangkan saat ini. Banyak teori yang menyatakan bahwa manusia baru menggunakan sekian persen dari kemampuan otaknya, still plenty room for improvement!!

Kemampuan manusia untuk berpikir dan menganalisis inilah yang kemudian melahirkan suatu teori. Teori bahwa bumi itu bulat, teori bahwa ada gaya gravitasi yang membuat apel jatuh dari pohonnya, teori bahwa saat ini sedang terjadi pemanasan global dan perubahan iklim. Dari begitu banyak teori yang terbukti dapat dipercaya, ada lebih banyak teori lagi yang tidak dapat dipercaya karena berbagai alasan, secara fakta terbukti salah, kurang akurat, atau bahkan sangat tidak berdasar (saya yakin diantara pembaca pasti ada yang pernah menghitung kancing baju untuk menjawab suatu masalah kan? nah itu teori yang sangat absurd!).

Perkembangan zaman, perubahan lingkungan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan manusia-manusia jenius adalah para "Pembunuh Teori". Mereka bahu-membahu mematahkan segala bentuk teori yang ada, bahkan teori-teori yang sudah demikian disayangi umat manusia (teori bahwa kerokan meredakan masuk angin, yang ternyata malah sangat berbahaya bagi kesehatan, salah satu contohnya). Para "Pembunuh Teori" ini juga mempunyai serial televisi yang lumayan digemari, Mithbuster, yang menceritakan tentang sekelompok orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk membuktikan apakan mitos (masih besannya teori) itu benar atau salah. Sayangnya serial ini tidak ditayangkan di televisi nasional.

Teori juga melekat dalam sepak bola, olah raga paling populer di seantero jagat selain Quiditch (hehe..). Banyak teori lahir, tumbuh, dan mati di dunia sepak bola yang kita kenal. Sudah menjadi pemahaman umum (that's theory) bahwa tim sepak bola modern harus memiliki pemain yang beroperasi sebagai penyerang, dan untuk kebutuhan liga top Eropa, pemain harus memiliki fisik yang memadai terutama tinggi badan. Akan selalu ada pihak yang mematahkan teori, di sini "Pembunuh Teori" yang saya suka adalah FC Barcelona  dan  Tim Nasional Spanyol. Kedua tim ini memiliki nyali untuk bermain tanpa menggunakan penyerang murni dengan mengandalkan pemain yang rata-rata berfisik "mungil" untuk ukuran Eropa. Apa yang bisa mereka raih? FC Barcelona merajai liga Spanyol (bersanding dengan Real Madrid), dan Tim Nasional Spanyol menjadi juara Eropa dan Juara Dunia berturut-turut. Juara Dunia! Keberanian menentang teori membuat mereka berhasil menaklukkan dunia.

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang dipenuhi dengan berbagai macam teori, beberapa teori dibuat oleh para ahli Matematika jenius seperti John Nash (ingat film The Beautiful Mind?). Ada satu tempat makan yang sering saya kunjungi, yang membuktikan bahwa teori ekonomi tentang pemasaran tidak berlaku bagi mereka. Namanya Warung Babi Guling Sari Dewi-Bapak Dobiel (maaf bagi yang muslim). Warung ini selalu ramai oleh pembeli, masyarakat lokal, wisatawan asal Surabaya, sampai tamu dari Korea dan Jepang. Kebetulan lokasi warung ini di Nusa Dua-Bali, pusatnya hotel-hotel tempat wisatawan menginap. Fakta yang saya lihat, warung ini tidak menyediakan parkir khusus bagi pengunjung, meja kursinya sudah sama tuanya dengan Bapak Dobiel (jangan bayangkan produk antik seperti di Warisan!), hanya menyediakan satu macam menu, harga yang berubah-ubah tergantung mood sang penjual, dan yang paling fenomenal, Bapak Dobiel atau rekannya tidak akan segan-segan membentak pembeli jika request-nya terlalu merepotkan untuk dikerjakan. Nah lho! Para ahli pemasaran tentu mengernyitkan dahi mengetahui fakta ini, namun itulah yang terjadi. Tapi jangan salah, warung ini tetap menempatkan pembeli sebagai raja, yakni dengan menghidangkan menu yang kelezatannya membuat kita seakan menjadi raja yang punya segalanya, walau di kenyataan sedang banyak utang (ups!).

Ingin tahu siapa lagi anggota "Pembunuh Teori" ini? Sangat banyak. Usain Bolt, pelari yang memiliki fisik tinggi dan berotot gempal dianggap kurang aerodinamis, namun dia terbukti adalah manusia tercepat di jagat raya. Shah Rukh Khan, aktor muslim pertama yang sukses berkarir di dunia perfilman India yang didominasi umat Hindu dan kemudian menjadi aktor tersukses dalam dunia perfilman jika dilihat dari jumlah film yang dibintanginya. Tukul Arwana, pembawa acara yang memiliki fisik "kurang menjual" dan sering bergantung kepada panduan teks di Laptop, pernah mendapat bayaran termahal di Indonesia dan masih eksis sampai saat ini. Dan daftar ini masih akan bisa berlanjut sampai menjadi novel.

Teori telah membimbing manusia dari masa ke masa, tapi teori bukanlah tembok agung yang membentengi umat manusia. Teori bukanlah batasan. Teori seperti halnya batu pijakan saat kita hendak menyeberangi "sungai kehidupan" yang luas dan dalam, You may stop when there are no more stepping stones ahead of you, or you can try stepping from the other side of the river, or else, you can throw a rock that big enough to become your new stepping stones.

  

2 comments: