Skip to main content

Sapu Lidi atau Ember


Tahun ajaran baru telah dimulai, perjalanan berangkat kantor kembali dihiasi dengan iringan murid yang berjalan kaki berangkat sekolah dan ada juga yang naik sepeda motor (meski belum cukup umur, tak pakai helm, bonceng 2 pula!). Selamat belajar generasi penerus Bangsa! Ingatlah pendidikan itu penting tapi kejujuran lebih penting lagi.

Melihat murid sekolah itu jadi ingat dulu waktu masih SD di kampung, tepatnya di SDN 1&2 Penglatan. Entah mulai kelas berapa (mungkin kelas 2), setiap pagi kami diwajibkan masuk pagi-pagi dan membawa alat kebersihan, pilihannya dulu sapu lidi atau ember, pilihan yang akan menentukan masa depan kami seterusnya (hehehe..emang pilihan kelas di Hogwarts). Membawa sapu lidi memiliki keuntungan bisa datang sekolah lebih siang daripada pembawa ember (disiram dulu baru disapu halamannya) tapi kekurangannya bagi cowok bila membawa sapu lidi maka akan dianggap cemen atau lemah, karena sapu lidi biasa dibawa murid cewek. Saya tak pernah bawa sapu lidi selama SD (sekedar konfirmasi).

Memilih membawa ember memiliki lebih banyak dinamika sosial dibanding sapu lidi (tentu waktu SD saya tak bilang "dinamika sosial"). Kami harus datang jam 6 pagi ke sekolah, mengambil air di kolam dan menyiram seluruh halaman serta pohon. Resiko celana dan baju basah (sepatu sudah pasti) sangat besar, meski kami tak pernah ganti walau sebasah apapun, punya seragam sekolah yang layak saja sudah beruntung. Selain menunjukkan bahwa kami macho, jenis ember yang dibawa juga menentukan status sosial muridnya. Yang paling umum dibawa adalah ember putih bekas cat, karena sebagian besar dari kami golongan menengah ke bawah. Ember ini besar, sangat kuat, dan bisa beralih fungsi menjadi kursi. Bagi mereka golongan lebih ke atas akan membawa ember baru warna warni, ada yang biru muda, hijau muda, merah muda, hitam muda (jadi abu-abu) dengan ukuran yang kecil. Pembawa ember ini seakan-akan punya keistimewaan untuk mengambil air lebih sedikit dibanding kami para tukang cat. Tapi ember mereka tak bisa dipakai jadi kursi, pasti pecah.

Pembawa ember juga berarti harus siap dipanggil saat sekolah membutuhkan, terutama waktu itu karena sekolah kami baru dibangun, pembawa ember (ya nyaris semua murid cowok) ikut bergotong royong mengambil kerikil di sungai yang jaraknya kira-kira 1 Km dari sekolah. Rata-rata setiap murid sanggup mengambil 3 ember kerikil (kerikilnya ringan, tapi jarak tempuhnya yang jauh naik turun bukit) tapi itu sudah sangat cukup mengingat jumlah kami banyak. Yang paling saya ingat ketika mengambil kerikil adalah proses mengeruk kerikil dari dasar sungai menggunakan tangan membuat kuku sangat kotor dan gatal-gatal di sela jari berbentuk bintil kecil berisi air, Ibu saya bilang itu karena kerikil dan air yang kotor, sampai sekarang saya tetap pegang itu. Biasanya kalau sudah tak tahan gatalnya, bintilnya saya tusuk dengan jarum yang ujungnya dibakar dulu, supaya airnya keluar dan bintilnya kempes.

Saya membayangkan jika para pembawa ember itu ada di jaman sekarang, pastilah Komnas Perlindungan Anak dipanggil atau bahkan polisi dipanggil karena dianggap penggunaan tenaga kerja di bawah umur. Tapi kami saat itu senang-senang saja, itu untuk sekolah kami sendiri dan kami masih anak-anak yang tak cuma harus belajar tapi butuh banyak kegiatan luar ruangan. Salah satu kegiatan luar ruangan favorit pasca pembersihan di pagi hari adalah main "Incang-incangan" atau istilah nasionalnya "Gobak Sodor". Jika pembersihan selesai awal, maka sekolah mengijinkan kami bermain Incang-incangan dulu, biasanya setengah jam. Saya sangat payah dalam permainan ini karena badan saya dulu kecil, kurus, dan tak bisa lari cepat. Yang paling jago adalah mereka anak kelas 5 dan kelas 6, terutama anak yang telah beberapa kali tak naik kelas, jadi badan mereka sudah besar seukuran anak SMP, lari mereka cepat, dan jangkauan tangannya juga sangat jauh. Kadang ada sesi Incang-incangan "Asenan" yaitu versi kerasnya, alih-alih cuma menyentuh, sang penjaga akan memukul atau menampar lengan mereka yang berusaha lewat. Yang boleh bermain hanya mereka yang kelas 5 dan 6. Tapi masih dalam koridor permainan, tak pernah terjadi perkelahian akibat permainan itu meski kadang terjadi marah-marahan.

Oya, tak hanya pembersihan di pagi hari, kami juga dibentuk piket untuk membersihkan kelas saat pulang sekolah, tugasnya menyapu, membersihkan papan tulis, dan menaruh kursi secara terbalik di atas meja (pemandangan ikonik sekolah negeri). Petugas kebersihan sekolah cuma ada 1 dan tak mungkin dia membersihkan 10 kelas (anak kelas 2 masuk siang, satu kelas dengan anak kelas 1) serta menyapu halaman serta merawat kebun sekolah.


Meski ingatan saya tak begitu bagus (kata dia, ingatan lalat), tapi saya senang masih bisa mengingat cuplikan kehidupan SD dulu, terutama pilihan setiap pagi untuk membawa sapu lidi atau ember.



Comments

  1. It happened exactly the same in my SD too kak. Kami gantian bawa sapu atau ember, misalnya senin rabu jumat bawa sapu, hari lainnya bawa ember. Bagian halaman sekolah yang disapu setiap orang ditentukan urutan datang. Yang datang paling awal dapat bagian paling kecil. Setiap bagian sudah dinamai, kesatu, kedua, dan seterusnya. Yang datang terakhir biasanya harus membersihkan wc atau membersihkan kotoran anjing di halaman sekolah hahahahaha. One good childhood memory~

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah....sistemnya udah rapi di busungbiu...
      di Penglatan kan ndak ada yg ngatur,,autonom...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...