Skip to main content

Nama adalah Doa (orang tua)

Brigadir J dan FS, dua nama yang tak bisa lepas dan selalu menghantui kita dua bulan terakhir. Dalam ‘kita’ ini tak termasuk mereka yang tinggal di luar negeri atau di dalam gua terpencil sambil healing. Pemberitaan Brigadir J dan FS begitu masif di berbagai platform media, ‘menyerang’ dari berbagai arah. Muncul setiap lima menit di stasiun TV nasional; scroll-scroll di medsos dan akan ada selentingan terkait kedua nama itu baik berita, parodi, maupun konspirasi.

Membahas nama membuat saya mengingat idiom lama: nama adalah doa. Idiom ini tidak hanya muncul di Indonesia, tapi berlaku global di dunia. Ada banyak penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia untuk mencari kaitan antara nama dengan akibat dari nama tersebut. Banyak konten yang menyukai ide bahwa nama memberi dampak bagi sang pembawa nama, dan tak kalah banyak pihak yang menyatakan bahwa nama tak berpengaruh apapun.

Apakah Anda menonton pertandingan sepakbola Timnas usia junior? Kalau iya, Anda pasti mendengar banyak nama familiar yang muncul di era 1990-an dan 2000-an dan sekarang menjadi nama pemain-pemain muda Indonesia. Timnas U-16 yang juara AFF 2022 punya nama-nama berikut: Figo Dennis Saputrananto, Femas Aprian Crespo, dan Arkhan Kaka Putra. Timnas U-19 memiliki Ronaldo Kwateh dan Robi Darwis. Robi Darwis bukanlah anak dari legenda Persib Robby Darwis, tapi memang orang tuanya adalah penggemar Robby Darwis.

Menjadi pemain Tim Nasional merupakan puncak pencapaian bagi atlet sepakbola. Kerja keras berlatih selama bertahun-tahun, bermain secara rutin di klub sepakbola, hingga lulus seleksi berlapis-lapis untuk akhirnya mengenakan lambang garuda di dada, mengalahkan jutaan pesaing lainnya (di Indonesia, kalau di Islandia saingannya tak sampai puluhan ribu, tapi kualitas pemainnya tetap jauh di atas Timnas Indonesia :P). Andaipun sudah bermain sangat baik, masih ada peluang tidak terpanggil Timnas karena tidak cocok dengan strategi pelatih (stay spirited Spaso!).

Orang tua Figo Dennis Saputrananto, Femas Aprian Crespo, dan Arkhan Kaka Putra tentu menangis haru melihat anak-anaknya mampu membanggakan nama negara. Doa mereka yang tertulis dalam nama anaknya terwujud nyata. Menjadi pemain sepakbola hebat seperti halnya Luis Figo, Hernan Crespo, dan Ricardo Kaka. Semoga suatu hari nanti pemain Indonesia mampu mencapai level itu, mengangkat trofi Liga Champion, atau sekalian kita bermimpi: mewakili Indonesia di Piala Dunia!

Jadi, sebuah nama apakah begitu penting? Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana cara orang tua membesarkan anaknya, dan apa yang dilakukan si anak sendiri untuk pertumbuhan dirinya. Setidaknya ketika mengalami krisis identitas, sang anak masih ada pegangan arah hidup, yakni: namanya.


Ditulis oleh seorang yang bernama Sastra, yang memang belum mampu memenuhi ekspektasi dari namanya berkarya di bidang sastra, setidaknya dia sudah mencoba. 

Sedikit contoh dari orang terkenal di luar sana:




Untuk perusahaan, tentunya nama sangat penting dan penuh pertimbangan matang baik bisnis maupun citra perusahaan.


Semoga hari Anda menyenangkan dan memenuhi potensi diri Anda :)

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...