Skip to main content

Instagram, changes where people travel


Instagram saat ini tengah di puncak popularitasnya, aplikasi buatan Kevin Systrom dan Mike Krieger di tahun 2010 ini, telah memiliki lebih dari 300 juta pengguna, lebih banyak dari seluruh penduduk Indonesia!

Seperti halnya Facebook, Instagram menjadi sangat terkenal karena aplikasi ini menjadi sarana bagi seseorang untuk berbagi apa yang ada dalam pikirannya (atau dalam kameranya) pada banyak orang, sebagaimana Maslow berteori bahwa kebutuhan manusia yang paling puncak adalah kebutuhan Aktualisasi diri. Jika Facebook hanya memungkinkan berbagi dengan teman, Instagram memungkinkan seseorang mengaktualisasi dirinya dan dilihat oleh siapapun di seluruh dunia. Kalau perlu digunakan banyak hashtag untuk memungkinkan semakin banyak orang yang melihat fotonya.

Saya sendiri memiliki teori bahwa Instagram telah mempengaruhi kemana orang bepergian. Orang-orang (terutama anak muda) saat ini cenderung bepergian ke tempat-tempat yang yang populer di Instagram, terutama pantai, cafe, restoran, dan tempat nongkrong lainnya. Foto-foto indah dari paket perjalanan ke Pulau Komodo atau Kakaban, telah membuat objek wisata tersebut makin terkenal dan makin banyak wisatawan domestik berkunjung. Hal ini juga dialami tempat wisata lainnya, tak perlu biaya promosi jutaan rupiah, foto-foto gratis di Instagram malah lebih efektif. Tentu saja ada peran acara jalan-jalan yang makin banyak di TV seperti My Trip My Adventure, yang rajin menguak pesona wisata baru yang belum terjamah.

Lain halnya dengan tempat makan, jika sebelumnya tempat makan yang terkenal adalah tempat makan yang enak, maka setelah era Instagram yang terkenal adalah tempat makan yang bagus untuk tempat foto dan mudah dikenali orang (istilah kerennya stand out). Makanannya tak perlu enak, harganya tak perlu masuk akal, yang penting hasil fotonya keren dan banyak yang suka di Instagram. Tempat seperti Rockbar@Ayana dan berbagai beach club di Seminyak kini mulai ramai oleh wisatawan lokal, padahal sebelumnya hanya diisi oleh turis mancanegara.

Saya juga melihat kecenderungan rumah makan atau restoran (terutama yang modalnya besar seperti yang dimiliki artis) memilih untuk menekankan pada dekorasi yang unik sehingga bisa menjadi objek foto, seperti memajang piano klasik, gitar ukuran jumbo di dinding, atau lampu gantung yang super mewah (yang kadang tak nyambung dengan konsep tempatnya). Yang modalnya terbatas juga bisa dengan memajang foto-foto antik zaman kolonial Belanda, atau sekalian memajang barang koleksi Kakeknya ketika kecil seperti mesin tik dan sepeda ontel. Masalah rasa? Nanti bisa ditingkatkan seiring waktu. Harganya? Asal tempatnya bagus, harga yang tak kompetitif pun tetap dibayar (tentu sangat membantu jika ada mesin gesek kartu kredit).

Instagram, aplikasi kecil, sederhana, dan gratis tapi mampu mengubah kebiasaan (sebagian besar) manusia dalam bepergian.


Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Sisi Lain Lombok Yang Mungkin Tak Kamu Ketahui (Part 1)

Siapa sih yang tak kenal Pulau Lombok saat ini? Terakhir, Pulau Lombok dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia, mengalahkan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Pulau Lombok juga berulang kali masuk nominasi pulau terindah di Asia bersama dengan Pulau Bali. Masih kurang bukti? Acara jalan-jalan di TV berulang kali berkunjung ke Lombok, baik yang sekedar jalan kaki di pinggir pantai Gili Trawangan, berenang diantara ikan-ikan dan terumbu karang di Gili Kondo, mancing di Sekotong Barat, hingga mendaki Gunung Rinjani, dan mengendarai motor trail menaiki Bukit Marese. Bahkan grup jalan-jalan Lombok makin hits dan anggotanya bertambah terus, baik di Instagram maupun di kenyataan saat gathering . Meski telah dipublikasikan secara luas, masih ada hal-hal unik tentang Pulau Lombok yang mungkin tidak diketahui secara luas dan mungkin hanya ada di Lombok. Mungkin tidak ada di tempat lain, karena belum 1% dari Republik Indonesia tercinta ini yang saya tinggali , baru perna...