Skip to main content

Antre bukan Antri


Kenaikan harga BBM bersubsidi (atau dalam bahasa Pemerintah: pengalihan subsidi dari konsumtif ke produktif) November lalu, dibarengi dengan program bantuan bagi rakyat kurang mampu yang bernama Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). PSKS ini berupa uang tunai sebesar Rp400.000,00 yang dibagikan melalui kantor-kantor Pos di seluruh Indonesia.

Masyarakat tampaknya sangat antusias dengan PSKS ini, karena setiap kantor Pos yang saya lihat sedang membagikannya dijejali lautan manusia, baik itu pagi ataupun siang, panas terik maupun hujan rintik. Kantor Pos yang tak seberapa besar menjadi arena berdesak-desakan dan berebut giliran paling depan, meski saya tidak yakin jika PSKS ini menggunakan prinsip "siapa cepat dia dapat".

Hikmah yang mungkin dapat diambil dari gambaran di atas adalah rendahnya budaya antre. Budaya yang memiliki banyak nilai positif yang cocok dengan "budaya ketimuran" Indonesia. Antre mengajarkan tentang sebab-akibat, jika datang terlambat akibatnya posisi di belakang. Mengajarkan manajemen waktu, jika ingin di depan datanglah lebih awal. Mengajarkan tentang hak, ketika menyerobot antrean, saat itu kita sedang melanggar hak orang lain. Dan hal-hal positif lainnya.

Petikan wawancara seorang guru dari Australia yang sering dikutip di berbagai kesempatan, sangat relevan dengan hal ini. Guru tersebut menyatakan bahwa Ia lebih takut jika murid-muridnya tak bisa antre daripada tak bisa matematika, karena matematika bisa dipelajari dalam waktu 4-6 bulan, sedangkan antre memerlukan waktu 12 tahun diajarkan di sekolah dasar di Australia. Dua belas tahun.

Dulu ketika saya masih kelas 1 atau 2 SD, ada iklan di TVRI tentang bebek yang berjalan beriringan di sawah, dan mengajak masyarakat untuk antre supaya tak kalah dengan bebek itu. Setelahnya, mungkin tak ada lagi iklan layanan masyarakat tentang budaya antre. Ketika ada kasus video porno siswa SMA, maka cepat disimpulkan bahwa pendidikan moral yang kurang, tapi ketika pembagian daging qurban yang ricuh berdesak-desakan, yang disalahkan adalah panitia yang kurang siap. Iklan bebek tadi telah lama dilupakan.

Mari budayakan (kembali) antre.

Comments

Popular posts from this blog

Lembar-Padangbai: Dekat di peta, Jauh diseberangi

Ketika bertemu sanak keluarga atau tetangga di kampung, sering kali pertanyaan yang diajukan adalah di mana sekarang bekerja, dan saat saya jawab di Lombok, maka sebagian besar akan bilang: "Oo, di Lombok, deket kan..berapa lama nyebrangnya dari Lombok ke Bali?" Saya jawab, "Biasanya sih 5 jam di laut, kadang kalau cepat bisa 4 jam, pernah juga 7 jam." Dan mereka pasti terkejut. Jika belum pernah mengalami perjalanan laut Lombok-Bali pasti tidak menyangka, karena secara awam melihat Lombok tidaklah sejauh itu, rata-rata mengira hanya memerlukan waktu 1 sampai 2 jam saja selama di laut. Meski terlihat dekat di peta, jarak Pelabuhan Lembar di Lombok, dengan Pelabuhan Padangbai di Bali adalah 36 Mil laut. Sebagai perbandingan, jarak Ketapang dengan Gilimanuk hanyalah 3 Mil laut, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Selain jarak, ada juga faktor gelombang laut yang kencang, yang menjadi resiko tersendiri jika nahkoda tak mengambil rute agak memu...

Belanja Online, Pilihan Cara Belanja Tanpa Bayar Parkir (Tapi Kena Ongkir)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jadi wajar jika hari raya Islam mempengaruhi bagaimana budaya masyarakat secara keseluruhan, terutama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara kebiasaan di bulan puasa kecenderungan masyarakat untuk berbelanja meningkat, baik itu makanan, pakaian, atau belanja lainnya. Produsen dan pedagang pun memahami hal ini, makanya mereka akan berlomba memberikan promo khusus (arus penawaran) di bulan ini untuk memuaskan niat berbelanja masyarakat (arus permintaan). Tak terkecuali situs berbelanja online atau via internet.

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...