Skip to main content

Posts

Yakin?

Beberapa hari terakhir saya melihat banyak iklan sosialisasi atau kampanye dini di TV, tulisan kali ini hanya ingin menyampaikan uneg-uneg saya tentang iklan-iklan tersebut. Pertama, iklan dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tentang Panas Bumi yang dikatakan sebagai sumber daya yang terbarukan dan tak terbatas. Saya yakin bahwa panas bumi merupakan salah satu solusi bagi kelangkaan energi saat ini, dan merupakan sumber daya yang bisa terbarukan, tapi saya tidak yakin bahwa panas bumi tersedia dalam jumlah yang tak terbatas (atau saya yang salah dengar iklannya?). Dulu ketika SD, buku pelajaran mengatakan bahwa Panas Matahari, Udara, dan Air Tawar termasuk dalam kategori SDA yang tak terbatas, coba tanyakan pada penduduk Beijing seberapa melimpahnya persediaan udara bersih disana, atau warga Jakarta tentang mudahnya mencari air tawar. Bahkan Matahari pun memiliki umur hidup, bukannya akan bersinar selamanya, meski umurnya sampai milyaran tahun.

Imajinasi

Setelah menanti sekian lama, akhirnya saya berkesempatan menonton DVD Pacific Rim, film keluaran tahun 2013 yang bercerita tentang perjuangan manusia melawan serbuan alien raksasa (disebut dengan Kaiju) yang datang dari lubang antar dimensi di dasar Samudera Pasifik. Untuk melawan monster, negara-negara di lingkar Pasifik kemudian membentuk proyek robot raksasa dengan sebutan Jaeger, dengan tokoh utama Jaeger kawakan bernama Gipsy Danger.   Saya sebetulnya tertarik menonton film ini karena disutradarai oleh Guillermo del Toro, orang yang melahirkan karya brilian seperti Pan's Labyrinth dan Hellboy. Mungkin terinspirasi kesuksesan pasukan raksasa Golden Army di Hellboy II, del Toro berani melanjutkan ke skala yang lebih besar, sangat besar. Terbukti Pacific Rim sukses meraup pendapatan global lebih dari 400 Juta Dolar!

Selamat Hari Raya Galungan!

Rabu ini, 23 Oktober 2013 bertepatan dengan Hari Raya Galungan bagi umat Hindu di seluruh Dunia, begitu pula bagi saya di Praya, Lombok Tengah. Meski tak dapat hari libur, masih bisa sembahyang ke Pura pagi ini sudah sangat saya syukuri. Terasa canggung sembahyang sendiri di tempat yang sama sekali baru (maklum, sembahyang pertama kali di Praya) tapi tak apalah, bermuka tebal meminta bunga dari yang duduk disekitar, hahaha..

Tua Itu Alami, Dewasa itu Wajib

Judul tulisan ini mungkin mengundang kritik dan bilang “salah itu Pak, yang benar ‘Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan’”. Dipanggil “Pak” saja sudah membuat saya merasa tua . Dan benar saya sudah tua, terbukti ketika membuka Facebook dan BBM yang dihiasi foto anak balita dari teman-teman seangkatan bahkan adik kelas. Lebih terasa lagi ketika berkenalan dengan anak-anak Magang/PKL dan saat saya tanya mereka lahir tahun berapa, dijawab tahun ‘95-’96, wow, I’m 10 years older than them ! But I don’t feel that old, hahaha..

Oleh-oleh dari Bali

Sebagai PNS di instansi vertikal, saya harus menerima nasib bahwa saat Hari Raya Hindu yakni Galungan tak bisa libur, malahan untuk Hari Raya Muslim Idul Adha cuti saya dipotong 1 untuk cuti bersama (14/10/13). Tak apalah, yang penting tetap bisa pulang lebih lama (4 hari liburnya, karena biasanya cuma sabtu-minggu saja). Perjalanan 4 hari membawa banyak hikmah bagi saya, meski ga penting-penting amat sih . Pelabuhan Padangbai seringkali hanya membuka satu dermaga, padahal lalu lintas Bali-Lombok lumayan tinggi. Pelabuhan Lembar hari Jum'at (11/10/13) sore membuka 3 dermaga ke Bali, 3 VS 1, maka terjadilah antrian yang lumayan banyak di laut pelabuhan Padangbai. Kapal yang saya tumpangi telah sampai di Bali jam 11 malam, namun jadinya terombang-ambing menunggu giliran sandar sampai jam 2 pagi. Dari pertama kali saya kerja di Lombok tahun 2008, Pelabuhan Padangbai selalu "jual mahal" dan membuka hanya satu dermaga, sering terjadi antrian panjang beberapa kilometer tr...

Nikmati Nasimu Selagi Hangat

Sebagai orang Indonesia, nasi tentunya mendapat tempat spesial dalam keseharian kita, tak lengkap rasanya kalau belum makan nasi dalam sehari. Saya sendiri sangat mengutamakan nasi saat makan, karena seenak apapun lauknya, kalau nasinya belum matang atau lembek, makannya jadi tak sedap. Pernah ketika masih bertugas di Sumbawa Besar, makan bareng rekan kantor di "restoran" (lebih kepada Rumah Makan) di pinggir pantai Labuhan Sumbawa. Lauknya menawan, ikan bakar bumbu pedas, tempe tahu goreng, telur dadar, dan tentu saja plecing kangkung khas NTB. Tapi begitu makan nasinya yang lembek-cenderung kurang matang, nafsu makan langsung hilang. Akhirnya masakannya ga habis, mahal pula. Untung makannya dibayarin . Mungkin kecintaan saya pada nasi efek dari memiliki ibu yang sangat pintar memasak, bahkan hajatan besar di Desa seringkali ibu turut membantu di dapur umumnya. Teringat waktu kecil, cukup dengan nasi hangat sudah bisa makan enak. Nasinya dicampur garam dan minyak kelapa...